MENYELAMI SHALAT ,DARI SYARIAT MENUJU HAKEKAT II


Aspek meditasi kata-kata dalam shalat

Takbir

Saat mengucap takbir "Allahu Akbar” atau Allahu maha Besar ini artinya kita merasakan kebesaranNya, saat membacanya fikiran kita sedang mengecilkan segala permasalahan yang ada di benak kita.. hanya dia yg Maha besar ..sementara seluruh persoalan hidup kita buat kecil di hadapan kita, semakin lama kita semakin kecil…. Kecil…..dan semakin kecil lagi hingga menjadi titik yang tak berarti di hadapan kebesaranNya, kita melarutkan diri dalam kebesaran Ilahi.

Saat bertakbir ini , kita menghubungkan kekerdilan dan keterbatasan diri kita dengan Kemahabesaran Ilahi, Kesempurnaan Dia yang melingkupi semesta yang tak terbatas.Seorang peshalat sejati yang takbirnya sudah terprogram dalam alam bawah sadarnya , telah tegak dalam dirinya seharusnya memiliki sikap mental yang kuat, ia tidak takut menghadapi berbagai macam permasalahan hidup, segalanya kecil di hadapannya, dia merasakan keagungan Ilahi dalam diriNya.


Dalam buku The True Power of Waternya, Dr. Masaru Emoto memperlihatkan berbagai foto-foto air yang struktur molekulernya terpengaruh setelah “mendengar” kata-kata.Air yang dikata-katai positif seperti cinta, terimakasih, dan sejenisnya, struktur molekulnya menjadi heksagonal nan cantik, berbeda dengan air yang dikata-katai negative seperti: perang , struktur molekur airnya tidak membentuk heksagonal dan tampak rusak.

Tiap kata memang memiliki kekuatan yang dapat mempengaruhi air bahkan fikiran-dan jiwa manusia , dalam tradisi Usui Reiki Ryoho ada meditasi dengan pembacaan dan penghayatan puisi waka, Tujuannya adalah agar segala ruh atau jiwa yang terkandung dalam syair-syair tersebut terserap dalam jiwa pembacanya, mereka menyebutnya Kotodama, yang secara harfiah berarti Jiwa kata atau kekuatan kata-kata. Salah satu puisi waka yang sering didengungkan dalam meditasi mereka antara lain :

LANGIT

langit Yang luas

Bergerak beraturan bersih dan tenang

[yang] sangat Biru di atas sana,

Aduh, seandainya jiwa kita bisa berkembang

Dan menjadi sangat terbuka!

Dari untaian syair tersebut kita menemukan adanya substansi “Keluasan’ dan “keterbukaan” yang dengan pembacaan dan penghayatan puisi tersebut diharapkan agar fikiran dan perasaan pembacanya akan terpengaruh efek dari kata-kata yang terkandung dalam puisi tersebut. Dengan membaca dan menghayatinya berarti menyerap jiwa “keluasan” tersebut ke dalam fikiran dan perasaan pembaca atau penghayatnya.Dalam takbir “Allahu Akbar” kita menemukan substansi kebesaran-keagungan sang pencipta.Bila kita membacanya sambil dihayati terus menerus tentunya hal ini akan menstimulasi dan memformat jiwa pembacanya sehingga memilki kebesaran dan keagungan jiwa.Menurut Ustadz Abu Sangkan ,apabila bacaan dan gerakan sholat dilakukan dengan penghayatan yang benar, dan dengan pengulangan-pengulangan yang continue dalam waktu 30 hari saja akan ada perubahan prilaku yang signifikan .Sehingga Qur`an mengatakan,” innashalaata tanha `anil fakhsyaa-I wal munkar” artinya “ sesungguhnya shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan munkar.”

Tadi sempat kita singgung sedikit tentang penelitian Dr.Masaru Emoto yang menjelaskan pada kita bahwa kata-kata memiliki pengaruh. Bila kata-kata biasa saja mempunyai pengaruh yang sedemikian dahsyat , apalagi kata-kata yang terkandung dalam Alqur`an. Ayat-ayat alQur`an merupakan kalam Ilahi yang memiliki dampak bagi jiwa manusia, hal ini terbukti dalam sebuah penelitian yang dilakukan Dr. Al Qadhi, melalui sebuah penelitian yang dilakukan di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, ilmuwan ini berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran, seorang Muslim, baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar. Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan. Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.

Selanjutnya, Dalam laporan dari sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Alquran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang mendengarkannya.
Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Alqur’an.

Eksperimen yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Alquran dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Alqur’an. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Alquran dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Alqur’an.

Alquran pun ternyata terbukti pula memberikan efek positif jika diperdengarkan kepada bayi. sebagaimana diungkapkan Dr. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997,bahwa bayi berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Alquran dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang.

Hal ini sesuai denganFirman Allah
“Dan apabila dibacakan Alquran, simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Q.S. 7: 204).
“Hai manusia, telah datang kepadamu kitab yang berisi pelajaran dari Tuhanmu dan sebagai obat penyembuh jiwa, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus/10: 57)

Alfatihah merupakan ayat Qur'an pembuka sebagaimana artinya, dalam surat ini terkandung tujuh ayat yang diulang-ulang , saat shalat, tujuh ayat ini dibaca berulang-ulang ini merupakan symbol bahwa fatihah bermakna pintu gerbang atau penghantar untuk naik ke langit yang tujuh.Dalam tradisi yoga kundalini ada konsep tentang kebangkitan kundalini dari chakra dasar dan seterusnya naik ke atas hingga chakra mahkota yang merupakan chakra mayor ke7 sepanjang jalur shusumna , ini sangat mirip dengan konsep mi`raj nya nabi yang kemudian diikuti oleh kaum Muslimin secara ruhani dalam setiap sholat mereka.sebagaimana sebuah hadist mengatakan : " Assholatu mi'rajul mukmin" kata nabi, artinya shalat itu perjalanan transendennya seorang mukmin.

Saat kebangkitannya, kundalini merambat naik dari chakra dasar yang merupakan pusat sifat dasar manusia untuk mempertahankan hidup, lalu naik ke chakra kemaluan yang merupakan pusat energy seksual atau hasrat hewani dalam diri manusia, lalu naik lagi ke chakra pusar yang merupakan pusat ego, chakra-chakra ini merupakan refleksi dari sifat kebinatangan atau basyariah dalam diri manusia,selanjutnya dari chakra-chakra rendah tersebut kundalini mulai menyentuh chakra jantung yang merupakan pusat kasih sayang, untuk seterusnya merambat naik ke chakra tenggorokan yang berhubungan dengan pengungkapan-pengungkapan rasa,atau kemampuan berkomunikasi-empati-saling menghargai, dari sini kundalini naik kembali ke chakra ajna ini menggambarkan bahwa manusia sudah mulai berfikir tentang kebenaran ,keberadaan diri dan hal-hal spiritual lainnya,untuk selanjutnya merambat naik ke chakra mahkota yang digambarkan sebagai pusat iluminasi atau pencerahan keTuhanan dalam diri manusia, kesemuanya menggambarkan transformasi ruhani manusia dari basyar ke insan,atau dari manusia yang masih bersifat kebintangan manjadi manusia yang telah dimanusiakan.

Basmalah

Setelah takbir, kita memulai perjalanan ruhani dalam shalat ini dengan membaca basmallah ,Bismillahirahmanirrahiem: dengan nama Allah Yang Pengasih dan Penyayang, Mengucapkan basmalah berarti menyadari keberadaan kita sebagai khalifah, wakil Tuhan di muka bumi.Kita ingat bahwa pada naskah proklamasi 17 Agustus 1945 tertera : Atas nama bangsa Indonesia Sukarno-Hatta , artinya Sukarno-Hatta melakukan suatu tindakan yang mengatas namakan bangsa Indonesia.Demikian pula halnya dengan kita saat mengucapkan basmalah,hakekatnya kita sedang memproklamasikan keberadaan kita sebagai khalifah fil ardli, wakil Tuhan di muka bumi,maka mulai saat pernyataan transenden-spiritual tersebut seluruh shalat kita termasuk seluruh fikiran-perasaan dan tindakan kita baik dalam shalat maupun diluar shalat di “transenden” kan pada Ilahi, artinya segala yang kita lakukan saat ini sudah bukan lagi tindakan kita pribadi, tapi merupakan tindakan yang "nyambung" pada Rabbul Alamin.Ini adalah suatu proklamasi ruhani yang merupakan suatu lompatan spiritual yang maha dahsyat,bagi para penghayatnya.

Dalam kalimah basmalah tersirat pula bahwa seorang khalifah atau yang mengatasnamakan Allah dalam menjalani hidupnya haruslah dapat memandang dunia ini dengan kacamata "kasih sayang" bukan lagi dengan kebencian dan permusuhan karena keduanya hijab yang dapat menutup hati, sedangkan cinta dan kasih sayang adalah hakekat.Demikian pula paradigma kita tentang Tuhan, yang selama ini kita "mengotori" citra Tuhan dalam fikiran kita sebagai yang bengis dan otoritaer, saat mengucap basmalah kita memandang Tuhan sebagai Yang Penuh Kasih Sayang.

hamdalah

Selanjutnya kita membaca hamdallah,” Alhamdulillahi rabbil`alamien” artinya : “ segala puji bagi Robb (pengayom) seluruh alam semesta” .Hamdalah menurut KH.Agus Miftah adalah pernyataan kesatuan organisme dengan kosmik, antara diri, Allah dan semesta alam. Seorang insan kamil atau organisme spiritual bukanlah seorang pribadi yang terpisah dan menjauh dari lingkungan, tetapi menjadi satu kesatuan dengan alam semesta,dan kemudian melakukan penghambaan pada Ilahi dengan berbaur bersama lingkungannya.Keduanya saling memasuki dengan cara yang kompleks sehingga tidak mungkin dipisahkan. Diri adalah organis dan lingkungan adalah totalitas organis dan an-organis meliputi mikrokosmos dan makro kosmos selanjutnya Meta kosmos yang meliputi segalanya, Rabb Al Alamien, Pemelihara Semesta Alam.

Saat membaca hamdalah, kita hendaknya merasakan adanya keteraturan di alam semesta, adanya suatu ENERGI YANG TUNGGAL yang melingkupi, “mengasuh” ,dan mengayomi” alam semesta .Dalam konsep Tao ada disebutkan tai Ji atau Pusat segala kutub semesta, yang membuat semesta dapat eksis. Hamdalah mengandung makna menyatukan diri dengan keteraturan Tuhan atau pengayoman Ilahi yang meliputi alam semesta ini. Menghubungkan keterbatasan diri kita dengan keluasan kosmik yang diliputi oleh “sesuatu yang lebih besar” dan "Maha tak terbatas" , yaitu Tuhan.

Mengucapkan hamdalah esensinya adalah berterimakasih, hamdalah adalah ungkapan terimakasih kita pada Ilahi. Kata terimakasih adalah kata-kata positif yang memiliki dampak terhadap internal yaitu jiwa pembacannya dan eksternal yaitu alam semesta . Luar biasa indah dunia ini kalau diisi dengan kata-kata yang berenergi positif.sains belakangan ini telah menemukan bahwa tanaman sangat responsive terhadap kata-kata bahkan musik.Tanaman akan tumbuh dengan indah saat terucap kata terimakasih, maka demikian pula halnya dengan ruhani kita, ia akan tumbuh dengan indah dan sempurna sebagaimana tanaman dan seluruh makhluk di alam semesta ini.

"Arrahmanirrahiem"

artinya " Maha Pengasih dan Penyayang, Kasih Sayang, kembali kedua kata tersebut diulang dalam Fatihah untuk menunjukan betapa pentingnya esensi dan substansi yang terkandung dalam keduanya.Saat mengucapkan dan kemudian menghayatinya jiwa kita dibawa kembali ke alam asal kita, kata Ibnu Arabi bahwa alasan penciptaan semesta adalah Cinta kasih, saat membaca ini kita terhubung kembali dengan cinta kasih Ilahi yang mendasari semua proses penciptaan, awal segala peristiwa, penyebab segala sebab, karena Cinta kasih adalah Hakekat.

“maliki yaumiddin”
artinya raja-penguasa di hari pembalasan, saat membaca ini kita diingatkan bahwa segala yang kita perbuat di bumi ini ada konsekwensinya, segala perbuatan kita ada akibatnyakarena kita dilingkupi hukum keadilan Ilahi, ada hukum keadilan Ilahi dimana setiap perbuatan apa pun bentuknya akan berakibat,ini adalah doktrin metafisik semua agama.Seorang spiritual adalah seorang yang berhati-hati dalam bertindak.

Iyyakana'budu wa iyya kanasta`in ,
Artinya" hanya padaMU kami mengabdi dan hanya padaMU kami memohon pertolongan" walaupun kita shalat sendirian sekalipun kita tetap harus membaca " hanya padaMu kami.." bukan " hanya padaMu saya"maksudnya saat mebaca kalimat tersebut aku atau saya bertransformasi menjadi kami, jiwa kita menjadi satu dengan seluruh makhluk yg bertasbih padaNya.. langit bumi bertasbih padaNya, elektron bertasbih dengan melakukan putaran thawaf mengelilingi inti atomnya, saat membaca nya jiwa kita menjadi satu dengan seluruh alam semesta, mengikuti irama alam semesta. Ini berarti pula bahwa urusanku adalah urusan ummat manusia, urusan ummat manusia adalah urusanku juga, maka sudah tidak ada lagi ego dalam diriku yang ada hanyalah totalitas pengabdian.

Iyyakana'budu wa iyya kanasta`in ini, berarti pula pernyataan kebergantungan jiwa seorang mushalli pada Yang Mutlak Dia Yang Esa, bukan pada yang fana-yang beranekaragam.Sebuah besi yang kuat sekalipun bila disandarkan pada sebuah rumah yang rapuh misalnya, maka pada saat rumah tersebut roboh, besi itu akan ikut roboh diantara reruntuhan puing-puing rumah tersebut, sebaliknya sebuah kayu yang rapuh bila disandarkan pada tiang besi yang kokoh, ia akan ikut berdiri kokoh.Demikian pula dengan jiwa kita, saat mengucap Iyyakana'budu wa iyya kanasta`in ini, kita sedang menyandarkan jiwa pada Yang maha kokoh.Jiwa kita yang fana disandarkan pada yang Abadi.

Ihdinashiratal mustaqiem
artinya tunjukanlah kami jalan yang lurus…Disini peshalat memohon bimbingan Ilahi untuk selalu menuntunnya menjalani hidup dalam jalan yang lurus, sebab sangat banyak jalan yang sesat, berbelok, tidak lurus.Dan kita memohon agar agar tidak tergelincir dari jalanNya, artinya seorang penempuh jalan spiritual harus selalu berhati-hati dari ketergelinciran, kita ingat kisah iblis,diriwayatkan bahwa makhluk Tuhan yang satu ini telah mencapai menghabiskan masa ratusan ribu tahun untuk beribadah pada Ilahi , sehingga ia mencapai maqam spiritual yang tinggi , derajat kemalaikatan, dan dapat langsung ber”komunikasi” dengan Allah, ma`rifat.Hingga pada suatu waktu ketakaburan menguasai jiwanya,suatu penyakit hati yang akut ibarat kanker yang terus menggerogoti hingga kemudian iblis tergelincir dari maqam spiritualnya tersebut karena kesombonganNya.

Dalam buku kisah-kisah ajaib , Ayatullah Dastegib mengisahkan pula tentang seorang ulama yg beribadah dengan khusuk, suatu malam ia bermimpi naik ke langit.Keesokan hari saat terbangun dari tidurnya, munculah rasa sombong dalam dirinya bahwa posisinya lebih tinggi dari yang lain, malam setelahnya ia kembali bermimpi , kali ini lain, dalam mimpinya kali ini ia menyaksikan dirinya jatuh dari ketinggian,langsung ia tersadar dari mimpi tersebut dan beristighfar, kesombongan walaupun sedikit dapat merusak tingkat spiritualitas seseorang.
Saat mengucap ihdinasshiratal mustaqiem, kita memohon bimbingan atau cahaya Ilahi agar menyinari matahati kita sehingga kita dapat melihat jalan terang Ilahi dalam menjalani setiap ujian dalam hidup kita.Betapa indahnya bila kita hidup dalam bimbingan dan kasih sayang Ilahi.

“Shiratalladziena an'amta 'alaihim.Ghairil maghdluubi 'alaihim. Waladllaalliien. “
Artinya " yaitu jalan orang-orang yang telah diberi nikmat, bukan jalan orang-orang yang dimurkai, bukan pula jalan orang-orang yang sesat." Disini batin kita secara spesifik diarahkan bahwa jalan Ilahi adalah jalan yang terang yang bila kita menjalaninya hidup akan terasa nikmat, ada kebahagiaan batin, bukan kegelisahan hati.Itulah jalan para nabi, para wali, para pejuang, orang-orang yang berkorban bagi sesama, jalan mereka yang merasakan nikmatnya hidup bersama Allah di setiap susah maupun senang, bukan jalan para Fir'aun, Qarun, Hamman, para penindas,para kapitalis, para koruptor, maupun para penjilat.

Kita sering menyaksikan adanya orang-orang yang melakukan spiritual tetapi masih berkecimpung dengan perusakan dunia, korupsi, menipu, menjilat, dan melakukan tindak kejahatan lainnya, disini saya tegaskan bahwa Indikator keberhasilan suatu riyadhah atau suatu latihan spiritual bukanlah terlihat dari keanehan-keanehan atau keajaiban yang dialami penempuhnya, tetapi dapat dirasakan dari ketenangan batin dalam menjalani hidup, meraih kenikmatan hati sehingga ia dapat menjalani hidup seberat apa pun dengan hati yang tetap damai dan lapang.Seorang makhluq spiritual bukanlah seorang yang banyak karomah tetapi hidup menjauh dari orang-orang miskin, dikelilingi para pejabat, hidup kotor dengan bergelimang kejahatan pada Negara dan masyarakatnya dengan melakukan korupsi atau menolong para koruptor agar selamat dari tuntutan.Seorang makhluk spiritual adalah seorang yang berjiwa lurus dan suci, mustahil melakukan hal-hal kotor yang akan mengotori kesucian jiwanya.Seorang penempuh jalan spiritual sejati digambarkan dalam rangkaian ayat tersebut sebagai seorang terang yang menerangi jalan ummat manusia,yang menikmati hidup dan berbagi kenikmatan hidup pada sesama, seorang yang berjalan lurus kedepan, pribadi agung yang tegar bukan jalan orang-orang yang ragu atau mudah tergoda untuk menjadi perusak, penindas, dan pembuat kegelapan.


tasbih

Selanjutnya saat ruku atau sujud kita membaca " Subhana robbiyal 'ala…." Saat itu kita mensucikan fikiran dan batin kita, bukan mensucikan Tuhan seperti yang sering kaum kejawen kritik, “bukankah Tuhan sudah Maha suci?” kata mereka. Bertasbih hakekatnya adalah mensucikan fikiran dari segala penggambaran atau segala asumsi atau persepsi yang kita buat tentang Tuhan.Ibnu Arabi pernah menyinggung tentang adanya orang-orang yang sesat dalam beragama, mereka merasa beragama, merasa paling benar dalam menyembah tuhan tetapi pada kenyataannya mereka menyembah Tuhan yang ada dalam fikirannya, menyembah gambaran yang mereka ciptakan di benak mereka tentang Tuhan,menyembah persangkaannya sendiri tentang Tuhan, hakekatnya mereka katnya belum menyembah tuhan sama sekali.

Selama ini kita seringkali mensu'udzoni Tuhan, berprasangka buruk padaNya, saat bertasbih kita memperbaiki hubungan kita denganNya dengan menyebut Tuhan tanpa penggambaran atau pencitraan apa pun tentangNya, kita menyebut Tuhan dengan tidak berfikir, tanpa menyamakan apapun denganNya.Dalam dunia meditasi dikenal istilah No Mind meditation, atau meditasi tanpa berfikir bila meminjam istilahnya Anand krisna, saat bertasbih pun kita melakukan no mind meditation ini, yaitu mengosongkan fikiran kita tentang Tuhan, kita menyebut atau memanggilNya tanpa berfikir apa-apa tentangNYA, kita hanya merasakan keberadaanNya , murni apa adaNya.Sebagaimana artinya, tasbih berasal dari kata sabaha yang berarti mengalir atau berputar-putar, seorang yang bertasbih adalah seorang yang membiarkan dirinya mengalir bersama air, membiarkan diri berputar-putar pada kutub Ilahi.

bacaan duduk antara dua sujud

Selanjutnya saat kita duduk antara dua sujud kita mengucapkan beberapa doa yang salah satunya adalah “robighfirli” artinya “Tuhan Maafkan aku”, saudara-saudara kita mazhab ahlul bait membaca “ astaghfirullaha rabbi wa atubu ilaih” artinya “ aku mohon ampun pada Allah dan kepadaNya diriku kembali”.prinsipnya sama saja yaitu permohonan maaf.Beristighfar bukanlah menyalahkan diri sendiri seperti sebagian anggapan kaum spiritualis barat selama ini, beristighfar memiliki makna memperbaiki diri, kembali ke kemurnian diri , fitrah.Ketika mengungkapkan kata “Maafkan saya”, ketika itu pula ada rasa melepaskan energi negatif dan beban yang ada di pikiran dengan sebuah pengakuan.


Syahadat
Lalu kita bersyahadat, menyatakan kesaksian bahwa Tiada Ilah kecuali allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah,Saat mengucapkannya , kita menyatakan bahwa kita telah menyaksikan.Suatu hari, Seorang pernah bertanya pada saya,” kapan engkau menyaksikanNya?”, saat itu saya hanya diam kebingungan, tidak mampu menjawabnya.Seorang musholli atau peshalat sejati yang telah menegakkan shalat dalam dirinya tentunya akan menjawab bahwa setiap saat kita menyaksikan keberadaanNya. Alam semesta menunjukkan keberadaanNya, materi yang wujud di alam semesta ini pada dasarnya hanyalah penampakan dari cahaya( pengetahuan)Nya. Imam Ali bin Abi Thalib saat ditanya tentang hal yang sama menjawab secara retorik,' Mungkinkah aku menyembah Tuhan yang tidak pernah aku saksikan?"( Nahjul balaghah).kita menyaksikan Tuhan dengan mata hati kita, bukan dengan mata fisik kita, mata fisik kita adalah fana, mana mungkin yang fana dapat menyaksikan yang Abadi? Menyaksikan keberadaan tuhan dengan mata hati ini disebut Syuhud dalam istilahnya kaum sufi, secara tekstual muhadisin menyebutnya dengan Ihsan .

Dalam sebuah atom yang merupakan pusat dari materi atau kebendaan, ada sebuah inti atom yang dikelilingi elektron.Elektron adalah sesuatu yang bukan materi, tidak ada seorangpun yang dapat menyentuh electron, artinya bahwa atom yang merupakan partikel dari suatu benda materi ternyata tersusun dari sesuatu yang non materi.Perputaran elekton pada inti atom tersebut terjadi karena adanya gaya tarik dan gaya tolak yang seimbang, disini kembali kita terkagum-kagum akan adanya DAYA RUBBUBIYAH ( Ketuhanan) yang menjadikan kedua gaya tersebut tetap seimbang hingga electron dapat terus berputar seperti putaran thawaf mengelilingi ka`bah. Demikian pula dengan inti atom, dikatakan bahwa inti atom tersusun dari serangkaian proton dan neutron yang tersusun seimbang, kita menyaksikan kembali adanya suatu daya yang menggenggam proton-proton dan neutron-neutron ini menjadi inti atom.Bila "genggaman" tersebut "lepas" proton-proton dan neutron-neutron tersebut akan terurai, lepas, inti atom akan musnah, dalam bahasa tekstual ada istilah genggaman Allah, dalam konsep taoisme mereka menggunakan istilah Maha Kutub yang tunggal atau Dai Ji..Bila genggaman Allah “ dilepaskan”, atau Sang Kutub ini berhenti dari kehendakNya sebagai kutub , maka semua elektron yang ada di alam semesta akan lepas, tidak lagi memutari inti atomnya, inti atom pun akan terurai, tercerai berai, atom akan musnah, artinya alam semesta akan hilang lenyap, musnah tanpa bekas.

Saat mengucapkan syahadat atau penyaksian, kita menyatakan bahwa Tidak ada yang kita saksikan selama ini kecuali ‘genggaman” Allah, tidak ada yang kita saksikan kecuali kebesaran Allah, semesta adalah manifestasi keberadaan diriNYA.Bahkan desir darah dan desah nafas dalam diri manusia adalah merupakan pekerjaan Tuhan atau mekanisme Ilahiah yang tidak pernah berhenti walau sekejap pun. Saat kita tertidur nafas kita tetap teratu padahal kita tidak sedang mengaturnya,ini pun menunjukan bahwa desah nafas dan desiran darah hakekatnya adalah af`alullah atau pekerjaan Tuhan yang tak pernah berhenti dalam diri kita, saat syahadat kita kembali menyatakan apa yang telah kita saksikan sepanjang hidup kita dengan jujur, bahwa tidak ada yang kusaksikan kecuali kebesaran Ilahi, Semua yang kusaksikan adalah Sistem pengayoman –pengasuhan Ilahi.

Kata Laa dalam syahadat berarti nafi` dan bara` atau menolak dan berlepas diri.laa ilaha iallah berarti pula menolak atau berlepas diri dari segala bentuk Ilah dan menetapkan bahwa Allah sebagai satu-satunya ilah. Dalam aqidah Islam, ada istilah alihatun mindunillah atau Ilah-ilah selain Allah ini bukan hanya berhala berupa patung atau benda-benda meteril saja , tetapi hal-hal hawa nafsu, prasangka,ilmu pengetahuan dan segala hal lain yang bersifat abstrak pun bisa menjadi Tuhan lain yang kita puja disamping Allah. Dalam konteks ini, syahadat bermakna negasi atau penolakan jiwa dari berbagai belenggu spiritual, dari segala Tuhan-tuhan yang kita ciptakan dalam fikiran kita berupa kecenderungan, gagasan, dan menghancurkan berbagai berhala-berhala hati yang merintangi perjalanan spiritual.Dalam konsep atau pelajaran sufisme, perintang perjalan spiritual ini disebut sebagai hijab, syahadat adalah proklamasi jiwa yang merdeka dari segala hijab spiritual , membebaskan diri dari berhala-berhala yang diciptakan fikiran,merdeka dari penjajahan hawa nafsu duniawi dan menetapkan (isbat) bahwa Allah saja yang dijadikan sebagai satu-satunya objek spiritual atau tujuan perjalanan.

Shalawat,
Allahumma solli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad, Ya Allah kesejahteraan atas Muhammad dan atas keluarga Muhammad, disini kita dibimbing dan diajarkan untuk tahu berterimakasih dengan memberi penghargaan setinggi-tingginya kepada para maha guru spiritual yang telah mengajarkan pada kita tentang makna spiritualisme yang sejati, Cinta dan pengorbanan.Tentang rasa terimakasih ini, Ahmad Toha Faz dalam bukunya Titik Ba mengutip pernyataan Einstein saat ditanya tentang kejeniusannya,"Setiap malam aku selalu meluangkan waktu untuk berterimaksih ( secara batin) kepada para guruku walaupun mereka telah tiada."

Dalam metafisikanya Ibnu Arabi atau Teosofinya Mulla sadra ada pembahasan tentang Logos Universal, yaitu suatu prototype manusia sempurna yang dengan landasan "ide" itulah Tuhan menciptakan alam semesta , menurunkan hujan, menahan azab, dan seterusnya.Sebuah analogi sederhana bahwa setiap pelukis memiliki suatu atau beberapa lukisan yang dijadikan deretan lukisan terbaik, ia ingin lukisan-lukisan lainnya menyamai lukisan terbaiknya itu, bila ada yang memuji lukisan kebanggaanya tersebut ia akan senang, sebaliknya ia akan kecewa bila seandainya ada orang yang menghina lukisan tersebut.Begitu pula dengan Tuhan yang laista kamistlihi syai'un, pujian atas "karya " terbaiknya sang Logos Universal hakekatnya adalah pujian padaNya, maka itulah salah satu dari makna shalawat, memberikan pernyataan Salut kepada Tuhan atas Muhammad dan keluarganya , menyanjung karya-karya terbaik sang Pencipta.Secara bahasa Muhammad berarti yang terpuji, dialah sang Logos Universal yang layak menyandang pujian, Salut pada Ilahi atas penciptaanNya yang terbaik Muhammad wa 'ala alihi.

Dalam pembahasan yang lain, kita mengenal konsep poros semesta, Sebuah ka'bah "diletakanNya" untuk dijadikan pusat thawaf, seperti Tuhan "menyimpan sebuah inti atom agar electron-elektron dapat "menari" atau bertasbih dengan berputar-putar mengelilinginya, dalam sebuah tatasurya Tuhan menyimpan sebuah matahari agar planet-planet dapat bertasbih mengelilinya, dan seterusnya.Maka pada ummat manusia, Tuhan " menyimpan" seorang manusia spiritual terbaiknya agar jiwa-jiwa dapat bertasbih mengelilinginya, merekalah para nabi, para Imam, dalam konsep metafisika tasawwuf konsep ini diistilahkan sebagai Wali Quthub, poros spiritual manusia. Beberapa aliran Yoga spiritual mengharuskan adanya seorang guru yang akan memandu perjalanan spiritual seorang anak manusia.Seorang yang melakukan perjalanan spiritual tanpa poros ibarat electron-elektron yang melayang-layang tanpa orbit tak tentu arah, dengan mengikuti poros , perjalanan ruhani kita akan berjalan dengan "menari" indah, saat bershalawat, jiwa kita berputar 'mengelilingi" Muhammad sang poros semesta teladan abadi sepanjang masa ini yang Shidarta Gautama mengatakan pada Sang Mahamatan ," wahai guru dari segala guru , aku datang kepadamu.

Saat mengucapkan shalawat pada Muhammad sekeluarga, kita terhubung dengan energi spiritual beliau sekeluarga.Dalam fisika ada hukum yang menyatakan bahwa energi itu kekal, walaupun secara jasad Muhammad sekeluarga telah wafat, tetapi secara ruhani masih eksis dan tidak musnah, ruhani suci yang memiliki vibrasi spiritual yang tinggi.Dengan sering bershalawat, jiwa kita akan merasa dekat dengan Muhammad wa 'ala alihi maka lambat laun jiwa kita akan ikut bergetar, atau "terinduksi"bila meminjam istilah fisika, seperti garpu tala yang ikut bergetar bila didekatkan dengan garpu tala lain yang telah lebih dulu bergetar.

Dulu, banyak sekali teman-teman saya menganut tarekat-tarekat atau aliran kebatinan tertentu datang dan bertanya pada saya ,"" untuk apa mendoakan keselamatan Muhammad, bukankah beliau sudah selamat?" Mudah-mudahan pembahasan tentang shalawat ini dapat menjawab apa yang mereka peetanyakan seputar makna dan hakekat shalawat.

Salam

Selanjutnya dalam sholat kita membaca assalamualaika ayyuhannabi ,salam sejahtera atasMu wahai nabi….. kita mengucapkan salam langsung pada sang Nabi yg terpisah jarak dan waktu …. Saat ini kita sedang menyadari bahwa keberadaan jiwa kita tidak terkekang ruang dan waktu.Kita adalah ruhani yang bebas merdeka.

Assalaamu 'alaina wa 'ala 'ibadilahi ssolihien , keselamatan atas kami semua dan atas hamba-hambaNya yaitu para shalihien, Kita pun mengucapkan salam damai pada org2 sholeh walau secara syariatnya dihadapan kita tidak ada apa pun kecuali hanya hamparan sajadah, tetapi hakekatnya di alam spiritual tdk ada ruang dan waktu, jiwa kita tidak terikat ruang dan waktu, keterpisahan kita dengan rasul dan orang-orang salih hakekatnya hanya illusi, saat mengucapkan ini kita menyadari bahwa essensi kita adalah jiwa yang merdeka, kita hakekatnya adalah makhluk ruhani.

Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh kita mengucapkan atau menyebarkan salam keselamatan dari Ilahi pada semesta.Dalam meditasi Reiki kita mengenal Gasho atau hatsurei Ho atau dalam prananya Choa kok Sui ada meditasi jantung,yang satu meditasi dari Tiongkok yang satu dari Filipina, prinsipnya sama saja, kita menyerap cahaya langit melalui chakra mahkota kemudian dipusatkan di chakra jantung sebagai pusat rasa cinta damai, kemudian menuyebarluaskan energi kedamaian tersebut ke luar diri kita hingga ke seluruh semesta.Berbagi kedamaian, dalam sholat , ini dijadikan sebagai penutup seluruh rangkaiannya , kita mengucapkan dan merasakan salam kedamaian selanjutnya kita menyebarluaskan energi kedamaian ini ke seluruh semesta…..

Dalam bukunya ‘Zero Limits, Metoda Rahasia Hawaii untuk Memperoleh Kekayaan, Kesehatan, Kedamaian dan Banyak lagi’ Joe Vitale penulisnya menceritakan pertemuannya dengan seorang spiritual healer bernama Hewlen , diceritakan bahwa Hewlen menyembuhkan sebangsal penuh narapidana yang sakit jiwa tanpa pernah melihat seorang pun dari mereka secara profesional. Ternyata Hew Len menggunakan metoda penyembuhan dengan sebuah cara “pembersihan diri” secara terus menerus kepada diri sendiri. Lebih jelasnya pembersihan diri tersebut adalah dengan ungkapan “Saya mengasihi Anda”, “Maafkanlah Saya”, “Terimakasih”, dan terakhir adalah “Salam kedamaian”,

Dalam setiap shalat, para peshalat sejati senantiasa mengucapkan dan menghayati kata-kata yang prinsipnya senada dengan kata-kata tersebut di atas: arrahmanirrahiem ( ungkapan kasih sayang ), robbigfirli (ungkapan permohonan maaf), alhamdulilahi rabbil 'alamien ( ungkapan Terimakasih) dan assalaa mu'alaikum (Salam kedamaian).Kata-kata berdaya spiritual tinggi yang dapat merubah semesta.

( diambil dari naskah saya yang berjudul: MENYIBAK TABIR SYARIAT MENYELAMI SAMUDRA HAKEKAT, berbagai jawaban atas pertanyaan seputar manfaat sholat,puasa, zakat dan haji )

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel