SUATU MALAM DI WANARAJA GARUT, SEBUAH RENUNGAN SEDERHANA TENTANG KESABARAN


oleh : Ki Akbar Kuspriadi penulis buku
"Biarkan Tubuh Anda yang menyembuhkan" (Pustaka Hidayah group)

“Kedudukan sabar di dalam iman seperti kedudukan kepala di dalam tubuh. Jika kepala berpisah dari tubuh, maka rusaklah tubuh. Jika Sabar berpisah dari urusan, maka rusaklah urusan”
“Barang siapa membuang kesabaran, maka kecemasan akan menghancurkannya”


Amirul mu`minin `Ali bin Abi Tholib



Saat kami bersilaturahmi ke rumah Ustadz Zakaria , salah seorang guru spiritual saya di Wanaraja Garut, beliau menceritakan tentang seorang tukang batu yang sedang memukuli batu yang cukup besar.Di Lauhul Mahfudz sana tertulis bahwa batu tersebut akan pecah pada pukulan ke 101.Tukang batu itu dengan sabar memukuli batu tersebut berulang kali tanpa pernah tahu pada hitungan ke berapa batu itu akan hancur.Tepat pada hitungan ke 101 …..KRAK….. batu besar itupun terbelah.andaikata ia berhenti pada pukulan ke 100an tidak melanjutkan ke pukulan 101, maka batu itu tidak akan terbelah.



Seperti tetesan air hujan yang menyirami tanah yang kerontang, kisah tukang batu yang diceritakan Uzak , begitu panggilan akrabnya , mengingatkan dan menyadarkanku kembali tentang makna kesabaran. Kisah tukang batu ini membuka wacanaku bahwa ternyata kesabaran adalah bukan semata-mata memiliki pengertian "nrimo", ketidak mampuan dan identik dengan ketertindasan, diam pasif dan menunggu. Sabar dalam konteks ini adalah kekuatan mental yang tidak menyerah begitu saja pada kenyataan.



Sabar juga memiliki dimensi untuk merubah sebuah kondisi, baik yang bersifat pribadi maupun sosial, menuju perbaikan agar lebih baik dan baik lagi. Seseorang yang menerima kondisi buruk, pasrah dan menyerah begitu saja, tidak dapat disebut sabar. Sabar merupakan keseimbangan antara sikap aktif dan pasif, sabar adalah pergerakan tanpa henti, ya ….. seperti tukang batu tersebut yang terus bergerak tanpa pernah tahu kapan urusannya selesai.



Seperti halnya sebuah atom, sebuah atom terjadi karena adanya keseimbangan gaya tarik menarik dan tolak menolak yang seimbang, keseimbangan tersebutlah yang kemudian menghasilkan perputaran elektron mengelilingi inti atom, sebuah perputaran yang tanpa henti.Kesabaran yang sejati akan menghasilkan pergerakan indah yang tanpa henti, menari berputar bersama semesta, dalam tasbih pujian pada Ilahi.



Segala hal di alam semesta ini pun merupakan wujud dari kesabatranm, karena merupakan pancaran dari Ilahi YANG MAHA SABAR. Induk ayam tidak akan dapat menetaskan telurnya kecuali setelah melewati waktu tertentu, butuh waktu dalam mengerami telur-telurnya agar telurnya dapat menetas. Seekor ulat harus melalui proses “sabar” dengan menjalani fase kepompongnya terlebih dahulu sebelum akhirnnya dapat terbang bebas menjadi kupu-kupu yang cantik.Seorang murid tidak akan mencapai derajat tertinggi dalam ilmu pengetahuan, kecuali setelah bersabar selama bertahun-tahun dalam belajar.



Sabar bukanlah berarti berhenti, bila seorang penyabar terlihat tidak bergerak, maka tidak bergeraknya ini bukanlah berhentinya ia dari pergerakan tetapi menunggu saat yang tepat untuk bergerak, atau mengambil ancang-ancang, bersiap sesaat untuk ke proses berikutnya.



Dalam pelajaran ilmu jeblag pernafasaan Nampon, Abah Ajat menjelaskan bahwa tidak pada setiap kondisi lawan dapat dipentalkan, tetapi ada suatu moment dimana lawan menahan nafas dan bersiap untuk melakukan penyerangan yang dalam bahasa sunda disebut ngawahan.Nah, di saat lawan "ngawahan" itulah kita dapat menjeblagnya dengan sempurna, mementalkan atau membalikan serangannya.Bila lawan belum berada dalam posisi ini, kita menjeblagnya, maka ini adalah sia-sia. Kesabaran pun dibutuhkan bahkan dalam ilmu persilatan.



Tentang sabar ini, Imam Ali pun pernah berkata :" Bahwa itu ada dua, pertama adalah sabar dengan hal-hal yang disukai, yang kedua adalah sabar dengan hal-hal yang tidak disukai. "Dalam konteks ini sabar adalah kekuatan pantang menyerah dalam kondisi apapun, orang yang sabar itu tetap bergerak dalam kondisi suka maupun duka.



Sabar juga memiliki dimensi yang lebih pada pengalahan hawa nafsu yang terdapat dalam jiwa insan. Dalam berjihad, sabar diimplementasikan dengan melawan hawa nafsu yang menginginkan agar dirinya duduk dengan santai dan tenang di rumah. Justru ketika ia berdiam diri itulah, sesungguhnya ia belum dapat bersabar melawan tantangan dan memenuhi panggilan ilahi.



Makna Sabar



Sabar merupakan sebuah istilah yang berasal dari bahasa Arab, dan sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Asal katanya adalah "Shobaro", yang membentuk infinitif (masdar) menjadi "shabran". Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. Secara definitive sabar berarti Menahan diri dari sifat kegundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah Sabar berarti pula tidak lari dari kenyataan, tidak lari dari medan perjuangan hidup.



Dalam konteks di atas sabar bisa diartikan sebagai focus, yakni pengarahan energi kearah pencapaian tujuan secara terus menerus dan konsisten.Keluh kesah , marah terhadap keadaan adalah penghamburan energi yang tidak terarah, semua ini merupakan bentuk dari ketidak sabaran.Orang yang sabar dapat menahan darinya dari segala bentuk penghamburan energi, energinya ia fokuskan kearah tujuan.



Saat sabar sesungguhnya seluruh sel-sel tubuh kita kita menyerap energi positif, fikiran dan perasaan kita terhubung dengan Ilahi SANG MAHA SABAR.Allah menggambarkan pula dalam Qur`an bahwa hambaNya yang sabar terhubung dengan pertolongan Ilahi, perhatikan ayat berikut : "Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar QS.2: 1534. Di ayat lain Allah SWT berfirman : "Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar (3: 146)



Saat kita tidak sabar, konektifitas kita dengan Ilahi terputus, sel-sel tubuh kita menyerap energi negative yang kian lama kian merusak system tubuh kita.Dalam penyembuhan kesabaran menrupkan kunci sukses menuju kesembuhan.seorang pasien yang sabar akan lebih cepat sembuhnya ketimbang pasien yang tidak sabaran dan gampang menyerah.

Selanjutnya sambil menghisap rokoknya dalam-dalam, Ustadz Zakaria yang lulusan Hauzah Ilmiah Qum Iran ini bertanya pada kami,” Dalam cerita tadi disebutkan bahwa batu tersebut belah pada pukulan yang ke 101.Yang ingin saya tanyakan adalah, pada pukulan ke berapa batu tersebut belah.”



” Pukulan yang ke 101 tadz.” Jawab saya yakin. ”Kurang tepat.”Jawab ustdz. Tiba-tiba seorang yang hadir menjawab mantap.” Yang memecahkan batu itu adalah serangkaian pukulan yang konsisten dari pukulan yang pertama hingga pukulan yang ke 101.” Ustadz menjawab,” Ya, benar”.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel