Jumat, 27 Maret 2009

SELAYANG PANDANG KOMUNITAS REIKI-MEDITASI KRIYA SEMESTA


Yayasan Kriya Semesta didirikan di kota bandung pada tanggal 29 April 2002 oleh dua orang master reiki dan beberapa orang praktisi Reiki yaitu: Rahadian Susila RM, Akbar Kuspriadi

Sekira 2004-2005 Yakrita menyelenggarakan pelayanan sosial , berupa pengobatan umum bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya, di jl. Malabar no. 10 B Bandung, kemudian di beberapa tempat di Bandung, garut dan sekitarnya.
Pada awal bulan Oktober 2005, atas izin Tuhan YME, Krita telah mengadakan kesepakatan untuk menyelenggarakan suatu acara dengan STV Bandung,
Setelah Idul fitri 2006 Krita bekerjasama dengan Radio Antares Garut, melenggarakan acara Reiki On Air dan Pelayanan pengobatan bagi pendengar antares dan masyarakat sekitar.Disamping itu Krita sempat pula menyelenggarakan acara pengobatan massal on air bersama Radio Zora Bandung dan sempat pula diundang di acara Gerakan Hidup Sehat PT.Pos

Setelah itu Krita membuka Unit Latihan di PT NTP (Nusantara Turbin dan Propulsi ) yang hingga saat ini beranggotakan 36 siswa, dan menyusul setelahnya membuka unit latihan yang beranggotakan karyawan-staff hingga para pimpinan PT.Kimia Farma Plant yang saat ini beranggotakan lebih dari 10 orang
Kegiatan Pelatihan Rutin Reiki bagi intern Yayasan di laksanakan di jl.Golf Barat IV no 15 Arcamanik Bandung.

selintas perkembangan keilmuan di komunitas Kriya Semesta

Pada awal perkembangannya Yayasan Kriya Semesta memfokuskan pengajarannya pada Reiki tradisi Usui (Reiki tradisi Jepang.Untuk melengkapi berbagai kekurangan yang ada , para master di Yakrita mempelajari beberapa aliran eksoteris lain , seperti :Reiki Tibetan Gtumo, Dtumo, Kundalini Dharma Yoga, Kundalini O Tara, Reiki Sufi, beberapa tradisi tarekat-sufisi dan lain sebagainya, beberapa diantaranya bahkan hingga tingkatan Master pengajar.

Dari berbagai diskusi transspiritual, dan berbagai eksperimen yang sering diselenggarakan di sekretariat, Para Master di Yakrita mengembangkan beberapa sistem keilmuan baru antara lain : Usui Reiki Advance, Kundalini sabda spiritual System , Ki-Kahuripan, Energi Pangreksa (spiritual Reki) yang kemudian berkembang menjadi Kesadaran Semesta.yang terpenting adalah , dari sistem keilmuan yang terus dikembangkan ini, yakrita berharap agar, segala manfaat dari berbagai keilmuan tersebut dapat dirasakan oleh umat manusia , dan semoga semakin terkuaklah segala khazanah keilmuan Ilahi yang semakin membuktikan keberadaan diriNya , dan semakin mendekatkan diri kita pada Yang Maha Tahu.Saat ini, Kriya Semesta mengembangkan KESADARAN SEMESTA sebuah konsep keilmuan spiritual dengan metode meditasi &kontemplasi yang lintas aliran.


dokter juga belajar Reiki



Dr.Indrawati dari Bandung(foto atas , paling kanan) dan Dr Dyah dari Jakarta (foto bawah paling kanan, yang lagi berdiri itu saya hehehe*Akbar ) praktisi Reiki Kriya Semesta

Rabu, 25 Maret 2009

MENINGKATKAN KUALITAS ENERGI DENGAN LIMA PRINSIP HIDUP REIKI,MENGUNGKAP SISI ESOTERIS REIKI YANG TERLUPAKAN



Oleh : Grand Master Reiki Akbar Kuspriadi , Funder Kesadaran Semesta

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah membaca suatu artikel tentang Falun Gong di salah satu situs internet .Dari beberapa penelitian tentang falun Gong , para ahli dikejutkan dengan berbagai fakta tentang fenomena supranormal pada beberapa praktisi yang dijadikan objek penelitiannya. Dalam sebuah penelitian tentang Seni esoteris asal Cina ini , ditemukan suatu fakta bahwa sel-sel darah orang normal dalam empat jam saja sudah rusak atau mati, sementara orang yang berlatih pernafasan selain Falun Gong dapat bertahan lebih dari empat jam dan kemudian rusak seperti manusia normal pada umumnya, sementara pada praktisi falun Gong hasilnya sangat mengejutkan, dalam pengamatan selama 40 jam, tidak ditemukan kerusakan pada sel darah mereka, sel darah para praktisi Falun Gong ternyata memiliki kemampuan membalik diri dan tidak mati selama pengamatan tersebut (40 jam).Para ahli menyebut hal ini sebagai fenomena supranormal.

Falun gong yang bila sepintas gerakannya mirip sekali dengan Chikung (karena memang bersumber dari Chikung ), ternyata sangat berbeda sekali dengan “induknya” (Chi Kung).Dari hasil jepretan kamera Kirlian dalam situs resmi Falun Gong tersebut, terlihat bahwa foto aura jari tangan siswa Falun Gong PEMULA dalam tiga hari latihan saja sanggup menyamai foto aura jari tangan hasil latihan Chikung selama dua minggu latihan berturut-turut

Hal yang membedakan falun Gong dengan “induknya” yaitu Chikung , menurut master Li Hong Zhi sang guru besar Falun Gong adalah: Bila pada aliran lain hanya melakukan kultivasi tunggal yaitu hanya latihan gerak-nafas saja, Para praktisi falun Gong melakukan kultivasi (pelatihan diri ) ganda lahir – batin , yaitu selain melatih diri dengan gerak tertentu, para praktisinya dibiasakan meneladani sifat-sifat positif universal yakni Sejati-Sabar –dan Baik.Menurut Penulis Buku Zhuan Fallun ini, bila kita hanya melatih gerak tanpa melatih batin dengan meneladani karakter positif semesta , kita hanya akan mendapatkan Chi (energi semesta biasa), tetapi bila kita melakukan kultivasi ganda lahir-bathin, kita akan mencapai Kung ( tingkatan yang lebih tinggi dari Chi )

Sebenarnya, Sistem Reiki pun sudah mengenal konsep kultivasi ganda ini jauh sebelum master Li Hong Zhi menulis Zhuan Fallunnya.Para praktisi Reiki generasi pertama sudah dibiasakan membaca 5 pinsip hidup disamping berlatih Hatsu Rei-Ho setiap sebelum dan setelah bangun tidur .Secara Lahiriah dibiasakan dengan olah gerak-nafas-dan visualisasi dari tekhnik Hatsu Rei Ho,secara bathiniah mereka dibiasakan menghayati 5 Prinsip Hidup setiap pagi dan malam.

Dengan Lima Prinsip Hidup Reiki inilah , Sensei usui mengajarkan para siswanya untuk mencapai puncak tertinggi yang Master Li Hong Zhi menyebutnya sebagai Kung atau Gong, dan kita mengistilahkannya sebagai Kesadaran Semesta, dalam tradisi lain disebut pula “bersatu dengan atman” atau “manunggaling kawula gusti “Pada pembahasan kali ini, kita akan menggali kembali sebuah peninggalan dari Sensei Usui yang sering terlupakan : Lima Prinsip hidup Reiki.

Kandungan Bait pertama dari lima Prinsip Hidup Reiki adalah : Tidak akan marah.Pada Bait ini, Sensei Usui menggunakan kalimat negatifbukan kalimat positif seperti auto sugesti pada umumnya, hal ini mungkin dimaksudkan agar kita lebih memahami apa yang terkandung pada kata “MARAH” dan apa saja akibatnya sehingga kita dapat meninggalkan atau menjauhinya.

Pada saat seseorang sedang marah, dalam kamera Kirlian auranya terlihat berwarna merah redup.Pada kondisi ini vibrasi orang tersebut tidak tenang, alias kasar.Vibrasi yang kasar ini, bila dianalogikan pada radio, dikatakan sebagai suaranya ngeresek atau tidak jernih, radio yang suaranya tidak jernih suaranya tdak terdengar jelas, maka demikian pula dengan orang yang sedang marah, suara hatinya tidak akan terdengar alias “ngeresek” seperti radio butut , dalam kondisi ini sulit bagi seseorang mendengar suara hatinya.

Seorang yang sedang marah dengan atau tanpa disadari sebenarnya sedang menyerap energi negative dan memancarkannya kembali ke lingkungan sekitarnya.Salah seorang praktisi Reiki, sebut saja namanya Dodi, suatu hari melakukan rutinitas hariannya menyalurkan Reikinya pada bunga mawar ,padahal saat itu ia sedang marah-marah, wahasil beberapa jam setelahnya, mawar kesayangannya malah layu dan warnanya berubah kehitaman.

Tentang marah ini, situs TaijiChuan bulan Mei ini menulis tentang pengaruh marah terhadap kesehatan manusia dalam sudut pandang medis.Karena terlalu panjang bila disampaikan dalam ceramah ini, kita simpulkan saja intinya, bahwa marah dapat mempengaruhi tubuh kita dan membuat kita sakit atau memperparah penyakit.

Lawan dari marah adalah Sabar, Lembut dan Penyayang, semuanya adalah asma-asama Tuhan yang kaum muslimin menyebutnya sebagai Ash-Shobur, Al-Lathief, dan Arrohiem.dalam literaturnya Ibnu Arabi dikatakan bahwa lebih baik meneladani nama-nama Allah daripada menyebut nama-nama Allah dalam jumlah yang banyak.Lebih baik seseorang berjalan ke pasar sambil menjalankan Sifat Arrozaq yaitu : berusaha mencari rezeki halal, lalu membelanjakannya sesuai kehendak-ridho Tuhan daripada menyebut-nyebut …….Ya Rozaq ………ribuan kali.Marah mewakili kekasaran hati yang getarannya bersumber dari hawanafsu , sementara Lawan dari marah :Sabar, Lembut dan Penyayang mewakili kelembutan hati yang bersumberkan suara IIahi

Berbicara tentang marah dan getaran hati ini, Agus Mustofa dalam bukunya Pusaran Energi ka`bah mengatakan ,’ Ketika marah, seseorang akan mengeluarkan getaran kasar hawa nafsu dari hatinya.Jantung hatinya akan bergejolak dan berdetak-detak tak beraturan.mukanya merah, telinganya panas, dan tangannya gemetaran.Frekwensinya rendah dan kasar, dengan amplitude yang besar .Jika dilihat pada alat pengukur getaran jantung ( ECG) akan terlihat betapa grafik yang dihasilkan sangatlah kasar dan bergejolak.Getaran tersebut memiliki efek negative terhadap tubuh kita.Sebuah benda yang dikenai getaran kasar terus menerus akan mengalami kekakuan dan kemudian mengeras.Demikian pula jantung kita, orang yang pemarah akan memiliki resiko sakit jantung dan mengerasnya pembuluh-pembuluh darah.dan secara psikologis dikatakan hatinya tidak mudah bergetar oleh kebajikan.”

Bait berikutnya dalam Lima Prinsip Hidup Reiki adalah tidak khawatir.Tentang kata khawatir ini, alqur`an pernah menceritakan tentang sifat para Wali Allah yang tidak pernah khawatir dan bersedih hati.Khawatir mengandung makna ketakutan, keraguan dan rasa tidak nyaman.Dalam pengobatan Reiki, Seorang pasien yang ragu-ragu, takut atau tidak nyaman akan sulit menerima energi Semesta, apalagi seorang penghusada yang ragu-ragu, takut atau merasa tidak nyaman, akan sulit tentunya terhubung dengan energi semesta positif.lawan dari khawatir bersumber dari sifat-sifat Tuhan dalam asma ul husna: Tentram dan aman bersumber dari Al Mu`min, rasa nyaman terlindungi yang berasal dari Al hafidz, jiwa yang Kokoh tak bergeming, tidak ragu-ragu yang bersumber dari Al qohhar dan Al jabbar.

Bait berikutnya dalam Lima Prinsip Hidup Reiki adalah bersyukur atas Semua berkah. Dalam Agama dikatakan bahwa orang yang bersyukur nikmatnya akan selalu ditambah dan ditambah Tuhan.Lawan dari Syukur dalam agama disebut sebagai Kufur Nikmat, Kufur dalam kamus bahasa Arab al Munjid berarti hatinya tertutup.Artinya seorang yang Kufur atau tidak bersyukur akses terhadap energi IIahinya tertutup, atau dengan kata lain energi Ilahiah tidak akan bisa masuk.

Bila hati tertutup ini dianalogikan sebagai gitar, maka bagaimana mungkin gitar akan mengeluarkan suaranya yang jernih bila lubangnya tertutup kain misalnya.demikian pula hati yang tertutup oleh negatif feelling , kufur nikmat atau rasa tidak senang terhadap takdir atau berbagai pemberian Tuhan, maka pancaran resonansi batinnya tidak akan terpancar sempurna.

Tentang syukur atau rasa terimakasih ini, sebagaimana diakui oleh Albert Einstein, bahwa konon setiap malamnya, Bapak Fisika Quantum ini selau mengkhususkan waktu untuk berterimakasih secara batin pada semua guru-gurunya baik yang mengajarinya secara langsung maupun tidak langsung ( melalui buku-buku yang ia baca ) .Dengan rutinitas tersebut menurutnya, ilmu dan pemahamannya tentang sesuatu selalu bertambah-dan bertambah.Dalam tradisi Islam tradisional, dikenal istilah tawasul , yaitu salah satu cara mensyukuri suatu ilmu atau lainnya dengan cara mengirimkan doa (biasanya berupa hadiah fatihah) pada orang tua, guru-guru, dan seterusnya hingga sampai ke Nabi (atau ada pula yang urutannya justeru dimulai dari yang teratas yaitu para Nabi ).Tidak semua aliran Islam menerima konsep tawasul ini, tetapi dalam berbagai diskusi saya selalu mengingatkan bahwa dalam sholat pun kita diharuskan berterimakasih pada nabi kita dan keluarganya yang telah berjasa dengan membacakan sholawat dan salam pada mereka dalam setiap duduk tasyahud akhir sholat kita.

Tentang Berkah atau kekuatan tawasul ini, saya punya pengalaman tersendiri.Sekitar tahun 1995 saya pernah belajar beladiri Sunda kuno yang biasa dikenal dengan Maenpo Peupeuhan atau Cianjuran selama enam bulan. pada seseorang di Padasuka Bandung,sebut saja Kang “…..” Setelah rehat sekitar setahunan , saya melanjutkannya pada murid beliau, sebut saja Cucu , saya berlatih hingga satu tahun.Tahun 2008 saya melanjutkan pelajaran ke salah seorang kakak seperguruan guru terakhir saya tersebut selama kurang lebih enambulan, kemudian dilanjutkan lagi dengan guru yang ditunjuk Kang “…….” , yaitu adik seperguruan beliau selama hampir satu tahun.

Tahun 2005, saya sempat berlatih beladiri tradisional aliran lain, yaitu pengembangan dari margaluyu, tekhnik memanfaatkan tenaga lawan khas tanah Pasundan yang mirip sekali dengan Tai Chi atau Aiki do . Kang Ichad sang guru, selalu mengawali latihan dengan “berterimakasih” kepada para guru baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dengan tradisi tawasulan.Seingat saya, karena satu dan lain hal, kami hanya sempat menimba ilmu sangat sebentar, kurang lebih tiga atau empat minggu atau hanya sekitar empat kali pertemuan saja , tidak lebih.Suatu hari salah seorang teman lama dating berkunjung ke rumah, iseng ia mengatakan ingin mencoba beladiri saya, dan langsung saya iakan .Saat teman tersebut memukul tanpa saya sadari tiba-tiba malah tekhnik memanfaatkan tenaga lawan yang saya pelajari dari margaluyu yang muncul, maenpo Cianjuran yang saya pelajari bertahun-tahun malah sama sekali terlupakan, dan……. Bruk ……… teman tersebut beberapa kali terkunci dan terpelanting.Penasaran dengan hal tersebut, saya mengajak teman lainnya untuk sparing , ternyata lagi-lagi saya dapat menghalau pukulan dan tendangan yang datang dengan tekhnik-tekhnik memanfaatkan tenaga lawan yang saya pelajari hanya empat minggu.Jadi, dalam mempelajari keilmuan, rasa terimakasih dapat membantu mempercepat pemahaman kita akan sesuatu. Seorang teman pernah mendapat suatu ilmu dari seorang Kyai dari Cicalengka untuk memudahkan menghafalkan dan memahami isi dari suatu buku yang dibaca, caranya yaitu dengan menghadiahkan fatihah tiga kali pada pengarangnya.

Bait keempat dalam Lima Prinsip Hidup Reiki adalah Bekerja dengan Tekun atau sungguh-sungguh.Tekun berarti bekerja penuh kesungguhan tanpa kenal menyerah.Dalam AlQur`an dikatakan bahwa “Barangsiapa yang bersungguh-sungguh , Kami akan tunjukan jalan-jalan kami” artinya Petunjuk ilahi atau Cahaya Ilahi hanya akan turun pada orang yang bersungguh-sungguh mengerjakan sesuatu.

Thomas Alpha Eddison misalnya, penemu lampu ini “ditunjukan Tuhan” rahasia keilmuan Ilahi setelah tekun melakukan 1000 kali percobaan membuat sebuah bola lampu.Pada akhirnya setelah 1000 kali gagal “Cahaya Ilmu Tuhan“ tercurah pada akalnya , melalui apa yang oleh ilmu psikologi disebut sebagai “Aha Eksperience “. Saat sedang jalan-jalan ditaman bersama isterinya itulah Tuhan menurunkan CahayaNya berupa ilham, terkuaklah rahasia keilmuan Ilahi. Andaikata saat itu Thomas Alpha Eddison tidak tekun, atau baru 700 x percobaan berhenti dan menyerah begitu saja, pasti Tuhan tidak akan mencurahkan satu dari lautan ilmuNya yang tak bertepi, atau dengan kata lain barangkali tidak akan pernah ada bola lampu.

Begitu pula halnya dalam mempraktekan Reiki kita baik dalam penyembuhan ataupun mengatasi berbagai kasus, tanpa kesungguhan , bimbingan Tuhan tidak akan tercurah pada hati dan akal kita.

Yang terakhir adalah Berbuat Baik pada seluruh makhluk Hidup.Dalam Literatur tasawuf semisal Ibnu Arabi atau Mulla Sadra, dikatakan bahwa Makhluk Hidup pada hakekatnya adalah Pancaran Ilmu Tuhan atau Manifestasi dari Kehendak Tuhan atau Firman Tuhan.Artinya jika kita berbuat baik pada makhlukNya berarti kita memperlakukan Firman Tuhan dengan baik, sebaliknya jika kita berbuat buruk pada makhlukNya sama saja dengan memperlalukan Tuhan dengan buruk.Bila kita memperlakukanNya dengan buruk, bagaimana mungkin kita akan terhubung dengan Cahaya Tuhan Bila kita berbuat buruk pada firmanNya pada hakekatnya kita berbuat buruk terhadapNya.

Demikianlah, ternyata 5 Prinsip Hidup Reiki merupakan metode kultivasi bathin yang bila dibaca berulang-ulang dengan memahami dan menghayati maknanya akan mengkultivasi bathin kita secara perlahan tapi pasti .Feed backnya, batin kita akan lebih tenang dalam mengahadapi hidup sehingga selalu terhubung dengan energi tertinggi yang bersumber dari Sang Pencipta sebagaimana peribahasa Cina kuno mengatakan,” hanya hati yang suci bersihlah yang dapat menjangkau pintu langit” .Semakin Lembut hati kita semakin tinggi frekwensinya. Pada frekwensi 10 pangkat 8 akan menghasilkan gelombang semisal radio, dan pada frekwensi 10 pangkat 14 akan berubah menjadi gelombang cahaya yang disebut dalam Reiki tradisional sebagai Daiko Mio “cahaya Terang Benderang” atau Honsashe Zonen (Gelombang Cahaya menembus ruang dan waktu).

Pada gilirannya, jika getaran cahaya Hati yang lembut ini vibrasinya semakin menguat, maka ia akan merembet keluar menggetarkan seluruh bio electron dalam tubuhnya untuk mengikuti frekwensi cahaya hati tersebut, hasilnya aura akan semakin jernih terpancar dan akan semakin merembes jauh mempengaruhi alam semesta


Disampaikan dalam Forum silaturahmi Praktisi Kesadaran Semesta , Minggu 25 Mei 2008 di sekretariat Krita jl.Golf barat IV no 15 Arcamanik Bandung

Selasa, 24 Maret 2009

PERJALANANKU MENUJU HENING


oleh : Akbar Kuspriadi Grand Master Reiki

Langkah kecilku menuju alam spiritual justeru baru dimulai pada saat SMP. Ada semacam kehausan atau mungkin kerinduan akan ”kebenaran’ , saya yang hidup dalam didikan sekuler yang tidak begitu mementingkan agama mulai ”menggugat” kehidupan keberagamaanku dilingkungan keluarga , bila anak-anak lain seusiaku saat itu dipaksa orang tua mereka untuk sholat dan mengaji,justeru malah saya yang ”memaksa” mereka mengajarkanku sholat dan mendatangkan guru mengaji.
Setelah itu, kerinduanku justeru semakin bertambah dan bertambah, berbagai kegiatan keagamaan mulai dari bedah buku, diskusi agama, organisasi pemuda keagamaan hingga pesantren kilat saya ikuti, namun semua itu sama sekali tak menghilangkan ’dahaga spiritualku” . Bukannya ketenangan yang saya dapatkan dalam setiap sholat dan dzikirku yang terkadang hingga berjam-jam, yang ada malah rasa letih luar biasa dalam batin dan fikiranku . Dalam setiap sholat dan dzikirku , saya selalu disibukan dengan menekan dan melawan lintasan-lintasan fikiran dibenakku yang selalu muncul silih berganti, semakin ditekan malah semakin banyak yang bermunculan , ada sesuatu yang hilang dalam diriku, saya memasuki sisi gelap dunia, yaitu pornografi sebagaimana remaja seisiaku pada umumnya.
Seiring pertambahan usia, kerinduanku akan hakekat kebenaran semakin bertambah, di bangku kelas satu sekolah menengah atas sekitar tahun 1992, saya mengikuti salah satu Perguruan Olah Nafas yaitu Lembaga Seni Olah Nafas Dzulfiqor yang mengajarkan sistem Pembangkitan Tenaga Dalam dengan metode meditasi gerak pernafasan.Di setiap akhir latihan , kami duduk meditasi sambil menatap suatu titik atau objek di depan dan pelatih menginstruksikan untuk fokus dan konsentrasi pada titik tersebut.Hasilnya, boro-boro konsentrasi yang ada malah saya sibuk melawan rasa letih, dinginnya malam dan berperang melawan berbagai lintasan fikiran yang bermunculan silih berganti, saat suatu lintasan fikiran yang muncul berhasil ”diusir” dari benakku, saat itu pula fikiran lain bermunculan, dan seterusnya hingga keletihan spiritual lagi-lagi muncul sebagai pemenangnya. Hal itu terus berkelanjutan hingga saya diangkat menjadi asisten pelatih,dalam setiap latihan saya selalu menginstruksikan para yunior untuk fokus dan konsentrasi , sesuatu yang sebenarnya saya sendiri pun belum merasakannya.
Karena rasa frustrasi itulah, diam-diam saya mempelajari lagi berbagai ”ilmu” atau metode lainnya, mulai dari belajar secara otodidak melalui berbagai buku tentang meditasi dan pernafasan yang saat itu sedang marak-maraknya , dan melalui berbagai perguruan lainnya yang diam-diam saya rambahi. Dari beberapa buku yang saya baca, diceritakan tentang pengalaman spiritual berupa rasa ketenangan dan kedamaian luar biasa yang dalam istilah yoga dinamakan ”ananda” dan dalam istilah sufisme disebut dengan Fana, tetapi lagi-lagi semua itu hanya sekedar cerita, yang saat itu saya belum memasukinya sama sekali.


Pengalaman Out of Body Eksperiense pertamaku
Setelah mengalami berbagai kegagalan demi kegagalan, pada tahun 2004 (SMU kelas 2 ) seorang teman memperkenalkan saya dengan suatu komunitas atau sebut saja geng , peminat ilmu-ilmu mistik-spiritual Sunda-Islam yang kemudian kami namakan White Kalam . Sebelum masuk , kami menjalani suatu tradisi penularan atau penginduksian kekuatan spiritual yang mereka namakan ijazah , be`at, atau aktifasi, saat menjalani ritual tersebut barulah saya merasakan sensasi getaran dari tulang ekor menuju ke atas kepala hingga kemudian melingkupi seluruh tubuh, dan sejak saat itulah saya mulai sering mengalami suatu kekuatan yang membuat tubuhku bergetar, beberapa tahun kemudian barulah saya mengetahui bahwa apa yang dialami tesebut adalah fenomena kundalini syndrom.
Pada suatu siang selepas sholat Dzuhur sepulang dari sekolah , seperti biasa saya kembali melakukan rutinitas meditasi yang sensasinya sudah dapat saya rasakan walaupun saat itu belum memasuki ”zona hening” seperti yang diharapkan. Karena mengantuk, akhirnya saya merebahkan diri di ranjang hingga tertidur, tiba-tiba saya terbangun karena merasakan getaran di sekitar seperti gempa bumi , dan saat itu telinga berdenging keras, seiring suara dengingan di telinga yang kian lama kian keras, getaran yang kurasakan pun semakin lama semakin kuat hingga tubuhku terlihat seperti bergoncang-goncang, tanpa terasa tiba-tiba badan terasa seperti melayang ke angkasa . Saat membuka mata saya sudah ada di atap kamar, dan ketika membalikan badan terlihat tubuhku terbaring di ranjang, Maha Besar Tuhan, saya melihat tubuhku sendiri.
Awal Memasuki Zona Hening
Minggu siang tahun 1999 di sebuah hotel di Bandung saya menjalani inisiasi Reiki yang diberikan oleh Master Reiki Rahmat Dharmawan, setelah sebelumnya Master pembimbing Yayasan Metta Energi ini (sekarang Padepokan Kundalini Dharma Yoga) menginstruksikanku untuk pasrah , membiarkan semuanya terjadi sambil berdoa dalam hati, sama sekali tidak menyuruhku untuk fokus atau berkonsentrasi, tidak berapa lama terasa hawa hangat mengalir masuk dari ubun-ubun menyebar ke seluruh tubuh, terlihat kilatan-kilatan cahaya menerpa tubuh dan dalam keadaan pasrah tanpa berusaha berkonsentrasi tiba-tiba fikiran ku seperti hanyut begitu saja mengalir bersama energi yang mengalir dalam tubuhku, tanpa terasa tigapuluh menit berlalu dalam fikiran yang tenang dan fokus pada rasa nyaman dan tentram, lintasan-lintasan fikiran yang biasanya sering bermunculan hilang entah kemana.
Sejak saat menerima inisiasi Reiki itulah, sensasi yang dialami para pemeditator yang sebelumnya hanya bisa dibaca melalui buku-buku akhirnya saya alami juga , mulai dari melihat kilatan cahaya dan berbagai semburan cahaya, rasa tenang dan rileks yang mendalam, perasaan melayang-layang, hingga sensasi rasa geli yang puncaknya nikmat yang menjalar ke seluruh tubuh, hingga tubuh menggelepar dalam puncak kenikmatan dalam meditasi (Orgasme Spiritual meminjam istilahnya Pak Irmansyah Effendi) .Saat itu saya merasakan, mungkin inilah puncak perjalanan spiritualku, sensasi yang selama berabad-abad dicari-cari para pendamba kebahagiaan batiniah.Ternyata tidak, semua itu masih langkah awal, perjalanan masih terus berlanjut.
Larut di Pusaran ka`bah
Ada rasa cemburu dalam hati saat mendengar ibuku hendak berangkat umroh ke tanah suci Mekkah, ”Kapan saya berangkat kesana Ya Robb” gumamku dalam hati. Dari hari ke hari, kerinduanku ber”wisata spiritual” ke ”Rumah Tuhan ” semakin tak terbendung, hingga suatu hari Ibuku memanggilku.
Rupanya karena adanya peraturan baru yang mengharuskan wanita yang berziarah ke tanah suci didampingi muhrimnya keberangkatan beliau ke Makkah terhalang, , sehingga kemudian beliau mengajakku ikut serta , yang tentu saja saya sambut dengan suka cita seraya berucap,” Aku datang penuhi panggilanMu Ya Rabb”
Dan tibalah saat yang ditunggu-tunggu, singkat cerita saya sudah ada di dalam Masjidil Haram berjalan mendekati Ka`bah, semakin dekat semakin kuat getaran dalam dadaku, saya larut dalam suasana haru dalam thowafku, tanpa terasa saya sudah berdiri di hadapan Multazam , sebuah tempat yang menurut beberapa riwayat dikatakan sebagai tempat yang mustajabah, dan saat tangan ini menyentuhnya, tiba-tiba saya memasuki suatu perasaan hening yang sulit digambarkan dengan kata-kata.Saya seperti memasuki suatu ”zona hening” , dimana saat memasukinya seolah semuanya seperti terhenti, suara-suara yang kudengar ”dliluar” sepertinya hilang entah kemana, semuanya seolah terdiam dan membisu, larut dalam kekhusuan.Dan, saat bersujud di area tersebut, seolah tubuhku menghilang entah kemana, lebur bersama semesta, menyatu dalam tasbih semesta.Selanjutnya dalam keheningan aku berucap,” Ya Tuhan sempurnakanlah spiritualitasku, hingga tahap sesempurna sempurnannya.”
Hari demi hari kulalui di Masjidil Haram, setiap sholat, thawaf dan dzikirku di tempat tersebut kulakukan dalam kekhusyukan yang begitu dalam. Sebagaimana yang dijelaskan Agus Mustofa dalam bukunya Pusaran Energi Ka`bah bahwa Ka`bah merupakan medan energi spiritual yang sangat kuat karena menyimpan energi spiritualnya Nabi Ibrahim (Ismail, Siti hajar hingga Muhammad SAWW) , adanya Hajar Aswad yang merupakan batu hitam meteorit yang diyakini memiliki konduktifitas magnetis yang tinggi , ditambah lagi faktor orang-orang yang bertawaf mengelilinginya setiap manusia yang merupakan kumpulan bio elektris mengelilingi satu objek yang ada konduktornya dimana setiap Muslim di seluruh belahan bumi melakukan aktifitas spiritual menghadap pusat tersebut, sehingga wajar saja tempat tersebut memiliki aura spiritual yang dahsyat, ditempat tersebut begitu mudah fikiran dan perasaanku untuk memasuki ”zona” tersebut, berbeda dengan yang kualami sebelumnya di tanah air.
Selain itu, saya mengalami pula suatu pengalaman aneh, saat melintas di bawah pancuran emas Ka`bah, tiba-tiba ada sesuatu yang sejuk mengalir di atas kepalaku dan getarannya yang damai menyebar ke seluruh tubuhku, lagi-lagi saya larut dalam suasana hening penuh kebahagiaan.


Meditasi merubah hidupku
Sepulang di tanah air, atas kehendakNya, saya menamatkan beberapa pelajaran Reiki dan esoteris lainnya hingga tingkat Master Pengajar.29 April 2002, saya dan beberapa rekan mendirikan sebuah Yayasan yang kami beri nama Kriya Semesta, dalam wadah inilah kami mengamalkan ilmu kami dengan mengadakan pelatihan-pelatihan Reiki dan memberikan pelayanan-pelayanan pada masyarakat dengan membuka klinik pengobatan .
Tanpa terasa , sudah lebih dari delapan tahun dari awal memasuki ”zona hening” (1999, awal inisiasi Reiki) hingga saat buku ini di tulis , saya menempa diri dengan meditasi dalam berbagai bentuknya .Secara fisik memang tidak ada yang berubah dalam hidup saya, tetapi secara batin-mental-spiritual, ada sentuhan keajaiban yang muncul mewarnai hidup ini, saat ini temperamen saya sudah tidak lagi seberangasan dulu, terkadang memang masih ada sifat pemarah, tetapi seringkali marah itu tiba-tiba hilang begitu saja seperti ada suatu kekuatan besar yang tiba-tiba mencabutnya begitu saja. Dalam hal hubungan dengan Ilahi pun kian hari kurasakan kian mesra, rasa damai dan kesejukan kurasakan dalam menjalankan ritual agamaku, kekhusyukan yang dahulu sulit kugambarkan dalam fikiran apalagi kualami, kini tidak lagi sesulit dulu lagi , ritual-ibadah kujalani dengan nikmat yang kian hari kian bertambah , insya Allah, hingga semua doa dan desiran keinginan terwujud dengan mudahnya bahkan tanpa sempat berdoa sama sekali, Dia sudah mewujudkannya, alhamdulillah. Melalui meditasi dengan berbagai bentuknya inilah, Dia membawaku kembali ke terangNya dari gelapnya dunia.
Dalam hal hubungan antar makhluk, meditasi yang kulakukan berefek pada meningkatnya sensitifitasku pada sesama, hingga jangankan pada sesama manusia, pada tumbuhan saja sulit rasanya untuk menyakiti apalagi merusaknya.
Bangkitnya Suatu Kesadaran
Akhirnya, dengan berbagai pengalaman spiritual yang kualami takdir membawaku untuk berkontemplasi di sebuah tempat dekat pantai di kota Karawang, tepatnya daerah Pulo Bata, suatu petilasan bekas sebuah pesantren yang didirikan oleh Syekh Quro.Dalam meditasi dzikirku usai shalat Dhuhur, tiba-tiba muncul suatu pemahaman akan keTuhanan dan alam semesta, suatu pemahaman yang muncul begitu saja bukan wisik gaib tetapi suatu pemahaman utuh yang muncu begitu saja dibenakku.
Begitupun saat saya menghadapi berbagai persoalan kehidupan , kasus-kasus pasien yang sedang kutangani ataupun berbagai permasalahan keagamaan, jawaban-jawaban selalu bermunculan di benakku , berkesinambungan , setiap kebuntuan selalu terpecahkan.Hal-hal tersebut selalu kudiskusikan dengan rekan-rekan pengurus Yayasan Kriya Semesta , ada yang sependapat tetapi ada pula yang belum dapat memahaminya, namun apa yang kualami ini ternyata dialami pula oleh Reiki master Rahadian Susila salah seorang pendiri Yayasan yang kami bina, ajaibnya lagi ternyata segala yang kufahami tentang Tuhan dan kesemestaan ternyata sejalan dan sesuai dengan apa yang selama ini difahami olehnya.Salah seorang rekan dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung jati Bandung mengistilahkan apa yang kami alami ini sebagai ilmu Ladunni, yakni ilmmu yang muncul tanpa dipelajari tetapi difahami begitu saja secara intuitif, namun hanya Tuhan Yang tahu.
Dari beberapa buku tentang teosofi Islam, Filsafat dan Tasawwuf seperti karya-karyanya Suhrawardi, Mulla Sadra, Ibnu Arabi, Imam Khomeini, dan Alamah Thoba-thobai akhirnya saya mengetahui bahwa konsepkonsep spiritual atau pemahaman-pemahaman teologis-falsafi yang saya fahami yang datang secara ”tiba-tiba” tersebut ternyata adalah konsep-konsep spiritual sebagaimana yang mereka fahami atau yakini.Termasuk filsafat ketuhanan yang sedemikian rumit , dapat saya fahami begitu saja walaupun secara sederhana dan dengan berbagai keterbatasannya hanya melalui kesadaran yang muncul begitu saja bukan melalui pencarian hakikat sebagaimana filsafat pada umumnya yaitu dengan proses pergumulan pemikiran yang panjang.
Hal ini ternyata pernah dialami juga oleh tokoh Sufi Suhrawardi sebagaimana pernyataan beliau,” Aku memahahaminya terlebih dahulu, barulah kemudian akalku menerima penjelasan rasionalnya melalui imu pengetahuin yang setelah itu aku pelajari.”

( diambil dari naskah saya yang ber judul : Membongkar Manfaat meditasi, panduan memasuki hening bagi pemula * belum diterbitkan.... klo ada penerbit yang minat ?!)

MEMBONGKAR FENOMENA ILHAM DALAM DIRI MANUSIA



oleh : Akbar Kuspriadi Grand Master Reiki

Syahdan, Hieron II, Raja Syracuse dari Sisilia pada abad III SM memerintahkan pada Archimedes untuk menentukan berat emas dan perak yang terdapat pada sebuah mahkota.Archimedes befikir keras selama berhari-hari, tapi jawabannya tak muncul jua dalam benaknya. Suatu hari, ia memutuskan untuk bersantai, berendam di pemandian seorang diri. Pada saat ia sedang berdiam seorang diri itulah tiba-tiba sebuah jawaban muncul dalam benaknya, saking girangnya ia berlari-lari telanjang keluar dari rumahnya sambil berteriak ”eureka, eureka.....” (saya menemukannya)
Seperti halnya Archimedes, berabad kemudian Thomas Alpha Eddieson yang telah mengalami kegagalan demi kegagalan bahkan konon lebih dari seribu kali gagal saat mencoba menciptakan sebuah bola lampu di laboratoriumnya,justeru saat sedang jalan-jalan di sebuah taman bersama isterinya tiba-tiba muncul ilham dalam benaknya, ia pun bergegas lari ke rumahnya dan segera ia realisasikan dan ternyata lampu itu pun menyala.
Diyakini, bila seseorang telah mampu mempertahankan gelombang otak Alpha (dan lebih rendah ; Theta , Delta dan seterusnya? ) dalam jangka waktu yang relatif lama dan dalam kondisi sadar, maka manfaatnya akan sangat besar sekali bagi orang tersebut antara lain orang itu akan jauh lebih mampu untuk berpikir jernih , produktivitas jelas akan lebih baik. Selain itu pada kondisi dibawah Betha ini idea atau inspirasi akan lebih mudah ”didapat.” Berbagai penemuan sains didapat dalam kondisi tersebut, bukan dalam kondisi beta atau gamma. Thomas Alpha edison sang penemu lampu misalnya , berhasil mendapatkan ide di sebuah taman tentang bola lampu yang akhirnya berhasil menyala , setelah lebih dari seribu kali mengalami kegagalan di laboratoriumnya . Sebelumnya, lampu-lampu ciptaannya di laboratorium selalu tidak berfungsi dengan baik , justeru ketika sedang bersantai bersama istrinya di taman itulah ide tersebut didapat.Keadaan otak seseorang saat bersantai di taman, melihat-lihat ikan di aquarium , berendam di kolam air hangat dan sejenisnya dapat dikategorikan ke dalam gelombang otak alpha . Berbagai penemuan lainnya mulai dari mesin jahit pertama, hingga ilustrasi DNA malah ditemukan sang penemunya justeru dalam keadaan tidur, dengan kata lain mereka mendapatkan ilham tentang temuannya tersebut dari mimpi. Penemuan-penemuan lainnya bahkan ”turun” di tempat sang foundernya bermeditasi, seni beladiri Aiki do misalnya , beladiri yang satu ini ditemukan Morihei Ueshiba sang founder justeru dalam kondisi bermeditasi di gunung Kurama. Selain itu, beladiri maenpo Cikalong, ditemukan dan dikembangkan Raden Haji Ibrahim jaya Perbata saat beliau sedang ”niis” di sebuah musholla dekat sungai Cikundul Leutik Cikalong Kulon . Sementara itu , para pakar mind power , positif thinking dan sejenisnya banyak yang meyakini bahwa afirmasi atau autosugesti yang diucapkan dalam kondisi ini lebih mudah mempengaruhi alam bawah sadar. Oleh karena itu dalam bidang sains, muncullah berbagai teknik atau peralatan yang dirancang khusus untuk menurunkan gelombang otak secara disengaja.

Seluruh ide tentang penemuan dalam bidang sains-tekhnologi, hingga seni budaya datang pada kondisi otak tersebut, sains menyebutnya dengan Alpha, Theta, hingga Delta, atau kondisi relaks pratidur hingga tertidur,bukan datang pada saat sang penemu berfikir keras, fenomena tersebut oleh sebagian saintifik sering disebut Aha eksperiense. Sama seperti seorang yang mencari-cari barang yangnya yang hilang kesana kemari , justeru pada saat sedang sembahyang misalnya, tiba-tiba teringat kembali tentang posisi terakhir barang yang dicari. Fenomena Aha ekperiense ini pun sering pula kita alami, misalnya saat kita membuat laporan atau karya ilmiah , dihadapan mesin tik atau komputer seringkali ide kita mandeg atau yang sering disebut ”gagap ide”, tapi justeru ketika sholat atau bersantai menjelang tidur misalnya, ide-ide malah banyak bermunculan.
Meditasi dan pola-pola mental sejenis merupakan salah satu upaya pengkondisan mental dengan terkendali untuk mengkondisikan fikiran dan perasaan memasuki kondisi dibawah Betha, atau kondisi menyerupai pratidur hingga tidur sehingga memungkinkan inspirasi atau ide bermunculan .
Selain beberapa jenis beladiri yang memang inspirasinya datang saat foundernya bermeditasi, belakang ini banyak pula penemuan dibidang tekhnologi komunikasi-informatika yang didapat saat penemunya bermeditasi, atau melakukan sesuatu ”ritual” yang menyerupai meditasi. Bila ada yang menyatakan bahwa inspirasi itu adalah berasal dari jin misalnya, saya akan balik bertanya, kalau begitu bangsa jin itu lebih cerdas dari manusia, lalu dimana letak kehebatan manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna? Bila bangsa jin atau makhluk halus sejenis datang memberikan inspirasi pada misalnya Sensei Morihei Ueshiba saat beliau bermeditasi , hingga dari inspirasi yang katakanlah merupakan ”gagasan” bangsa jin tersebut lahirlah beladiri Aikido, maka saya pun akan balik bertanya , kalau begitu betapa cerdas bangsa jin sehingga bisa mengajarkan tekhnik membuang tenaga lawan kemudian mengunci tangan dan jarinya hingga lawan tak bisa lepas ?disini dan ijinkan saya balik bertanya lagi, siapakah yang sebenarnya mempersekutukan Tuhan , apakah orang yang bermeditasi dengan tujuan mendengarkan suara hatinya, ataukah orang-orang yang berkeyakinan bahwa bangsa jin memiliki kesaktian dan kecerdasan lebih dari manusia dan berprasangka bahwa bangsa halus tersebut merupakan sumber ilmu pengetahuan ? Bukankah, pada hakekatnya Tuhanlah Sang Sumber inspirasi tersebut :
” Dan Dialah Tuhan Yang mengajarkan manusia apa-apa yang sebelumnya tidak mereka ketahui.” (Qur`an surat Al Alaq :5 )
Tentang inspirasi yang datang saat meditasi, atau menjalani pola-pola mental sejenis seperti sholat istikhoroh atau penenangan diri , Dr.Herbert Benson ,M.D dalam bukunya The Breakout Principle menyebutnya sebagai mekanisme pembebasan diri. Menurutnya, fenomena ”eureka” ini merupakan suatu fenomena yang berhubungan dengan mekanisme dalam otak manusia, berhubungan dengan fisiologi dan kimiawi otak manusia.Hal tersebut menurut peneliti dari Harvard Medical School ini, dipicu oleh suatu gas di dalam otak yang disebut dengan Nitrogen Oksida. Zat pemicu cahaya kunang-kunang ini, menurutnya berfungsi sebagai penyampai atau penghubung pesan, sehingga bila pada saat normal neuron otak secara fisik maupun elektrik mungkin tidak terhubung satu sama lain, dalam kondisi tertentu yang kita menyebutnya sebagai ”ilham ” atau ”inspirasi’ zat ini menjalankan ”tugas Ilahi”nya sebagai medium untuk bolak-baliknya sistem informasi di dalam otak. Dengan kata lain inspirasi muncul dari aktifitas otak yang kita menyebutnya sebagai mekanisme ke”Tuhan”an yang ada pada diri kita.

(diambil dari naskah yang ditulis oleh Akbar Kuspriadi : Menggali Manfaat Meditasi , panduan praktis bagi pemula menuju keheningan * belum diterbitkan )

Bid`ah-bid`ah pada Reiki dan sistem-sistem ekstoteris lainnya

oleh : GMR Akbar Kuspriadi

Sebagaimana diketahui , Reiki Usui yang dibawa ke Amerika oleh Sensei Takata dan kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia , telah kehilangan tekhnik-tekhnik dan konsep-konsep spiritualnya, sehingga reiki yang berkembang bukanlah spiritual energy atau spiritual healing tetapi hanyalah energi atau healing “biasa saja”
Reiki kini tidak lagi dilihat dan difahami berdasarkan paradigma grand Master Usui , tetapi berdasarkan paradigma penerus silsilah setelah beliau. Akhirnya Reiki dibatasi hanya sebagai energi penyembuhan saja. Maka, karena Reiki hanya difahami sebagai energi penyembuhan, maka jadilah Reiki sebagaimana yang diyakini, ia hanya menjadi energi penyembuhan biasa yang tidak efektif untuk menangani masalah Supranatural, gangguan jin, santet dan lain-lain.Padahal Sensei Usui menyatakan “setiap benda yang ada di alam semesta ini mempunyai reiki’ yaitu “energi universal yang merupakan inti dari seluruh kejadian”Beliau menyatakan pula bahwa “reiki merupakan gelombang energi cinta” dan “sinar murni yang datang dari dimensi yang lebih tinggi .

Para master reiki kemudian berusaha melengkapi “missing link” ini dengan mengadopsi tekhnik-tekhnik non reiki dan atau mengakulturasikan reiki Usui dengan konsep-konsep mistik-atau spiritual di luar reiki yang sebagian bersumber dari halusinasi atau “wisik gaib “, maka munculah aliran-aliran “reiki oplosan” .

Pada Reiki Seichim misalnya, Patrick Zeigler sang founder pada tahun 1978 mendapatkan energi barunya di sebuah piramid di Mesir saat ia menjalankan tugas sebagai pasukan perdamaian PBB. Pada malam suatu malam , saat bermeditasi di ruang raja dalam Piramida tersebut, ia mendengar suara-suara gaduh yang semula dikiranya adalah para penjaga yang mendatanginya, ketika berniat akan bersembunyi, tiba –tiba terlihatlah suatu sosok makhuk bersinar dalam delapan pola melayang di atasnya yang kemudian berkata,” This is why you have come ?”.Lalu “sret” dadanya serasa dibelah, setelah itu tiba-tiba rasa takutnya menghilang begitu saja, dan Patrick tiba-tiba merasakan suatu kesunyian yang belum pernah ia alami sebelumnya, hingga detak jantungnya pun terdengar keras.
Setelah dikonfirmasikan pada seorang cenayang bernama Christine Gerber di California maka berkembanglah kemudian apa yang disebut sebagai Reiki Seichim. Konon, saat itu Christine kesurupan sosok makhluk halus yang mengaku bernama Marat, yang menambahkan pada Seichimnya sebuah simbol bernama infinity.

Tidak hanya Seichim Reiki, reiki-reiki yang muncul belakang seperti Lightarian Reiki, Shambala , dan lain-lainnya sudah mulai mengalami penyimpangan atau apa yang agama menyebutnya sebagai penyesatan. Padahal Syekh Abdul Qodir Jaelani salah seorang yang dianggap wali oleh para pengikutnya dikalangan Islam suatu hari dalam dzikirnya pernah didatangi suatu cahaya putih kemilau yang menyatakan ,” aku adalah yang selama ini engkau sembah, sudah cukup ibadahmu.” Tiba-tiba beliau bangun lalu mengambil sandal dan kemudian melemparkannya pada cahaya tersebut sambil berkata,” enyahlah engkau iblis.” Artinya, kita harus selalu hati-hati terhadap setiap sosok yang datang pada kita, tidak boleh percaya begitu saja.

Tentang hal ini, Alkitab berbicara pula :
”Hal itu tidak mengherankan, sebab iblis pun bisa menyamar sebagai malaikat terang.’ 2 korintus: 14)

( pembahasan tentang berguru gaib dan guru sejati akan kita bahas pada buku Kesadaran Semesta berikutnya )

Demikianlah, pada akhirnya “ eksperimen-eksperimen spiritual” tersebut malah semakin menurunkan reiki ke tingkat klenik-mistikisme atau bisa dikatakan sebagai perdukunan gaya baru, bukannya spiritualisme sebagaimana yang biasa mereka gembar-gemborkan, mereka mengatakan bahwa mereka telah bertemu para spiritual guide`s yang mengajarkan pada mereka tekhnik-tekhnik baru yang selain tidak “manusiawi”(karena yang mengajarkannya jelas bukan manusia) juga belum tebukti effektifitasnya . Disinilah awal penyimpangannya, tatkala mereka berkutat seputar mistikisme, mereka sibuk dalam permainan para “spiritual guide”, mereka lupa bahwa reiki berasal dari Tuhan dan harus dipergunakan sesuai dengan “apa yang Tuhan inginkan “. Mereka sibuk dalam bebagai tekhnik yang diajarkan oleh apa yang mereka sebut sebagai para spiritual guide, atau sesuatu yang mereka klaim sebagai Ascended Master, dan lain-lain, sementara mereka lupa dengan konsep-konsep dasar reiki seperti :
Santai, Senyum, Pasrah, dan Biarkan Reiki Mengalir
Disaat itulah ,reiki sebagai anugerah Ilahi dipisahkan dari sumbernya ; Alam Semesta yang luas yang tidak terbatas milik Sang Ilahi, maka reiki kini dikungkung dalam batasan-batasan yang manusia buat (lebih parahnya malah yang makhluk halus buat) ; level, simbol, tekhnik, mantera, mudra, dan lain sebagainya. Kepasrahan adalah suatu cara untuk mendekat pada Yang Tak Terbatas, bila kita dekat dengan Yang tak Terbatas maka bukankah energi kita pun akan tak terbatas juga?

Dalam tatacara inisiasi salah satu varian Reiki pada tingkat ke 2 misalnya , saya sebagaimana yang diajarkan master saya biasa mengucapkan afirmasi sebagai berikut,” “anda telah mendapat attunement reiki 2 pada tradisi Usui dengan sempurna oleh karena itu mulai saat ini anda terhubung dengan energi alam semesta secara permanen dan anda berhak menyalurkan reiki pada………, dan anda berhak menggunakan simbol chokurei, seihei ki , dan honsase zonen”
Pada afirmasi dalam inisiasi Reiki tersebut terlihat beberapa pembatasan yaitu pada bagian yang hurufnya ditebalkan, ini merupakan salah satu pembatasan yang dilakukan seorang “mater reiki” pada muridnya. Pada akhirnya walaupun seorang murid dapat menyalurkan Reikinya dan menggunakan “fasilitas” berupa simbol-simbol yang diberikan haknya, tetapi dalam paradigma KeKesadaran Semesta-an, hal tersebut merupakan hijab yang membatasi hubungan si murid dengan keluasan Semesta, dan Pencipta pada akhirnya. Murid dibatasi hanya terhubung dengan satu aliran Reiki dan hanya dapat memanfaatkan simbo-simbol tertentu saja, ia tidak dapat menggunakan varian lain dan simbol-simbol lainnya. Padahal energi semesta itu sangat luas tak terbatas, dan simbol-simbol yang ada di alam jagat itu sangat banyak tak tersebutkan.
Firman Allah dalam Alqur`an ,” Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan lagi setelah keringnya, niscaya tidak akan habis-habisnya kalimat-kalimat Alloh.” Qur'an S Luqman:27

Tentang pembahasan ini, saya punya pengalaman unik. Setelah menamatkan pelajaran saya pada master saya yang pertama, kemudian hari saya dipertemukan dalam sebuah seminar mengenai hipnosis dengan Bpk.Yan Nurindra yang tak lain adalah “kakek guru saya”atau guru dari master Reiki pertama saya saat itu. Setelah berbincang-bincang panjang lebar tentang Reiki, Pak Yan, begitu panggilan akrabnya ternyata kaget saat mendengar ada tingkat 3a pada Reiki Usui saya sebagaimana yang saya dapat dari master saya. karena menurutnya pada Reiki Usui yang berasal dari lineagenya tidak ada tingkat 3a, kontan saja hal tersebut justeru membuat saya lebih kaget lagi, berarti master pertama sayalah yang “menambahkan tingkat 3a pada Reiki Usui yang diajarkannya.

Dari pengalaman tersebut, saya menyimpukan bahwa inisiasi Reiki merupakan pembatasan yang dibuat guru pada muridnya, dan kemudian setelah sang murid menamatkan pelajarannya, setelah menjadi guru dia dapat lebih membatasi lagi murid generasi berikutnya , misalnya dengan membuat tingkatannya menjadi lebih banyak, prosedur atau tata cara attunementnya menjadi lebih rumit dan seterusnya

Untuk membatasi aliran Reiki misalnya, sang master dapat memberi batas saat inisiasi cukup dengan menambahkan kata-kata tertentu pada afirmasinya , misalnya,”
,” “anda telah mendapat attunement reiki 1 pada tradisi Usui dengan sempurna oleh karena itu mulai saat ini anda terhubung dengan energi alam semesta secara permanen dan anda berhak menyalurkan reiki hanya pada diri sendiri”

Untuk membatasi seorang Master agar tidak menyebarluaskan aliran Reiki tertentu , seorang Grand Master bisa saja membatasi muridnya dengan menambahkan kalimat berikut (yang digaris bawahi) saat memberikan afirmasi,” “anda telah mendapat attunement reiki tingkat master pengajar pada tradisi ...... dengan sempurna oleh karena itu mulai saat ini anda terhubung dengan energi alam semesta secara permanen dan anda berhak menggunakan simbol........dan .hanya dapat melakukan inisiasi atas seizin saya.”

Dalam pelajaran exoterik-esoterik lainnya, pembatasan ini pun banyak saya temukan. Misalnya dalam seni pernafasan nampon saya pelajari dari silsilah yang melalui Abah Adjat Sudrajat (salah seorang murid H,Setia Mukhlis yang belajar langsung dari Uwak Nampon, pendiri Nampon) sama sekali tidak mengenal mantera-mantera tertentu apalagi ritual-ritual yang aneh-aneh, semuanya murni olah raga, olah nafas , dan olah rasa. Tetapi penulis pernah menemukan adanya “aliran’ nampon yang tidak tergabung dalam PPSN Jala Sutera yang kokocoran (silsilah) nya sama-sama berasal dari Uwak nampon ( pada aliran ini Uwak nampon disebut sebagai Mbah nampon) tetapi dalam tradisi khatamannya mengharuskan muridnya menyembelih ayam hitam dan memakan hatinya dengan tujuan untuk menyempurnakan tenaga dalamnya. Pada aliran “yang mengklaim” sebagai Nampon lainnya yang saya temui di Jawa Tengah malah jurusnya memakai wirid tertentu, dan menggunakan tradisi mandi air kembang untuk yang kata gurunya untuk menyempurnkan ilmu Sang murid, semua berbeda dengan aslinya. Sebagaimana peribahasa mengatakan ;’lain koki lain masakan.” , seorang guru dapat semakin membatasi muridnya dengan persyaratan-persyaratan tertentu.

“Dramatisasi’ pada tradisi gtumo dan berbagai varian ilmu Hikmah

Dalam tradisi gtumo yang saya pelajari dari salah satu “klan” yang ada di Indonesia, kita dapat melihat lagi berbagai batasan-batasan atau hijab-hijab spiritual yang dibuat oleh Sang Vajra masternya.

Dalam koleksi simbolnya, kemungkinan “disisipkan” beberapa simbol Reiki seperti Honsasezonen, dan Daiko mio, padahal sebagaimana yang kita ketahui bahwa gtumo berasal dari Tibet, sementara Daikomyo dan Honshashezonen adalah huruf kanji dan bahasa Jepang, bukan tibet jelas-jelas ini bumbu-bumbu atau bid`ah-bid`ah yang dibuat sang Vajra.

Lucunya , setelah “berusaha mempercayai” bahwa simbol-simbol itu original gtumo dan mempraktekannya dengan keyakinan penuh, saya kemudian dipertemukan seorang yang pernah mengikuti pelatihan gtumo dari seorang lamma di sebuah vihara di Bali ,dalam pelajaran gtumo yang katanya asli Tibet ini menurutnya justeru sama sekali tidak ada simbol-simbol, saya jadi makin bingung, siapa yang “menyusupkan” simbol dalam pelajaran gtumo dari lineage yang saya pelajari.

Akhirnya tibalah saya pada pelajaran akhir gtumo, setelah menerima angkur tingkat vajra Master, saya disuruhnya melatih gtumo selama beberapa bulan barulah saya boleh memberikan angkur pada orang lain, disamping itu vajra baru diwajibkan registrasi ke alam guru dengan membaca password yang berupa mantera yang katanya bahasa Tibet, bila tidak dilakukan katanya gtumo saya musnah. Akhirnya karena keraguan dan ketidak tahuan akan arti mantra yang harus saya baca mengharuskan saya hati-hati daam koridor tauhid sebagai seorang Muslim, saya memutuskan untuk tidak membacanya .

Pada akhirnya keragu-raguan saya pun terjawab, setelah dipertemukan seorang Tiong Hoa yang merupakan pasien Reiki saya yang kebetulan agak sedikit menguasai bahasa Pali, Mandarin ,sansekerta, dan sedikit Tibetan. Setelah membaca mantera gtumo mistik tersebut , pasien saya tertawa,’ ini bukan bahasa Tibet dan ini bukan mantera Bhudisme, ini bahasa Pali yang berisi pemanggilan nama dewa-dewi berikut sesajinya yang jelas-jelas bukan ajaran Bhuda.”katanya.

Karena merasa kecele akhirnya saya mencoba memberikan angkur sambil mencoba membuang jauh-jauh perasaan khawatir kalau-kalau gtumo saya musnah setelah mengangkur, walhasil sukses, dan saya merasakan gtumo saya masih ada malah semakin meningkat.

Budaya Daramatisasi, bumbu membumbui atau melebih-lebihkan tidak hanya kita temukan dalam tradisi gtumo , dalam pelajaran ilmu hikmah (hikmah yang dimaksud bukan filsafat Islam tetapi budaya mistik-esoteris Islam) kita akan banyak dapati berbagai syarat dari sang kyai atau ajengan yang disusupkan sebagai bumbu penyedap barangkali dalam pelajaran esoterisnya,( padahal kalau kebanyakan penyedap makanan malah membuat mual dan tidak enak ).

Misalnya saja saat saya menanyakan syarat hizib Mahabbah pada seorang Kyai di salah sebuah pesantren daerah Sumedang, menurut Sang Kyai yang biasa dipanggi Abah ini, syarat memiliki kekuatan Hizib Mahabbah adalah dengan membayar mahar berupa menyembelih kambing jantan kemudian membagi-bagkan dagingnya pada para santri atau fakir miskin, setelah itu puasa biasa empat puluh hari, dan membaca amalannya setiap ba`da sholat kalau tidak salah 40 kali balikan.Karena merasa syaratnya terlalu berat, akhirnya saya tidak menjalankannya.

Beberapa bulan kemudian saya menemukan lagi versi hizib Mahabbah lainnya, dari seorang Kyai di sebuah pesantren kecil daerah Kopo Bandung. Kali ini lain, maharnya cukup memberi uang sebanyak Naptu hari pada sang Kyai , kemudian puasanya juga cukup tiga hari dengan mutih, membacanya tengah malam sebanyak hitungan naptu hari .

Tidak lama setelah itu, saya berkesempatan mengikuti Ijazah Kubro yang diberikan seorang Kyai di sebuah pesantren daerah Cicalengka Bandung.dari Kyai yang akrab disapa Buya ini, saya mendapatkan beberapa amalan, beberapa hizib dan ijazah masal beberapa kitab ilmu hikmah.Dari salah satu hizib yang diijazahkan terdapat juga hizib mahabbah dengan syarat yang berbeda, cukup puasa biasa selama tujuh hari berturut-turut, dan membacanya ba`da Isya sebanyak 70x.

Mendengar cerita tersebut salah serang teman saya tersenyum sambil mengatakan peribahasa lain koki lain masakan.”tapi ini kan bukan masakan.’ Jawab saya sambil tersenyum.

DARI REIKI MENUJU KESADARAN SEMESTA

oleh :AKbar Kuspriadi Grand MAster Reiki

“Lepaskan Semua bebanmu maka engkau akan melesat.” ( Petikan Nahjul Balaghoh – Ali bin Abi Tholib Amirul Mu`minin )

Sebagaimana orang lain pada umumnya, awal mula saya berkenalan dengan Reiki (pertengahan tahun 1999 ) benak saya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan dan bermacam fikiran campur aduk, antara takjub, senang , ragu-ragu, dan ada sedikit ketakutan bermunculan dibenak penulis. Betapa tidak, pembukaan chakra-chakra utama dan penyaluran energi alam semesta untuk penyembuhan yang sepengetahuan saya hanya dapat dimiliki bila kita rutin melatih ilmu pernafasan selama berbulan-bulan bahkan mungkin bertahun-tahun, dalam Reiki semua itu dapat dimiliki hanya dengan melalui sebuah proses inisasi atau attunement yang hanya memakan waktu kurang lebih lima belas menit saja. Hebatnya lagi, dalam ilmu pernafasan yang saya pelajari sebelumnya sejak tahun 1992 hingga 1997, pengobatan jarak jauh hanya dapat dilakukan oleh orang yang telah melalui masa latihan lebih dari lima tahun dan semua itu dilakukan dengan konsentrasi penuh , hal yang selalu membuat saya gagal dalam terapi jarak jauh, akan tetapi dalam reiki semua itu dapat dilakukan bahkan sesaat setelah saya menerima inisiasi Reiki tingkat 2 (21 hari setelah tingkat 1), hebatnya lagi energi energi ini “seolah seperti punya “kecerdasan”, tinggal menyebut nama dan tempat pasien yang akan kita transfer, penyaluran energi jarak jauh dapat dilakukan tanpa perlu konsentrasi dan penyaluran otomatis berhenti sendiri saat energi pasien sudah cukup penuh. Semua itu menimbulkan banyak pertanyaan dibenak saya pada masa-masa awal mempelajari sekaligus mempraktekannya.

Setelah saya mengikuti lokakarya master pengajar untuk tradisi Usui-tibetan yang diselenggarakan salah satu Yayasan Reiki di sebuah hotel di Bandung , mulailah periode awal penulis mengajar Reiki pada orang-orang terdekat, mula- mula sahabat terdekat saya Rahadian Susila ( yang kelak kemudian mengembangkan Reiki Usui Advanced dan konsepsi Pangreksa ), menyusul kemudian teman-teman saya yang lain. Keberhasilan saya dalam menginisiasi teman-teman terdekat malah bukannya membuat hati saya puas, justeru hal itu semakin membuat semakin banyaknya pertanyan yang muncul dibenak saya.

Kemudian setelahnya, saya dan beberapa rekan terlibat aktif dalam penyebarluasan Reiki dan penyembuhan melalui wadah Krita (yayasan Kriya Semesta berdiri 29 April 2002) , pertanyaan-pertanyaan seputar ”keajaiban Reiki” mulai kami perbincangkan dalam berbagai diskusi disela-sela aktifitas kami , yang sangat serius namun diselingi banyak canda.

Dalam rangka menambah wawasan dan memenuhi ”dahaga spiritual” ,kami sempat pula mempelajari beberapa tekhnik exoterik-esoterik lainnya seperti Gtumo, Kundalini O Tara, beberapa aliran neo Yoga Kundalini, semua yang kami pelajari tersebut kami bahas melalui berbagai diskusi internal maupun dengan mengundang beberapa rekan dari varian Reiki dan aliran esoteris lainnya.

Tahun 2004 , pembahasan kami seputar Reiki dan ilmu-ilmu esoteris lainnya sudah mulai menemukan titik cerah, dan dari hari kehari kian mengkerucut . dalam wacana Pelajaran ilmu kehakekatan, Reiki dan ilmu-ilmu esoteris lainnya yang selama ini kami pertanyakan dan perbincangkan, menemukan penjelasan logisnya yang cukup rasional dalam sudut pandang kehakekatan. Beberapa konsep dan varian baru kami ”telurkan” dalam diskusi-diskusi tersebut, sebut saja Ki – Kahuripan, Energi Kinasih , Reiki Usui Advanced ( Transenden Reiki ), neo-tasawwuf Reiki,. dan konsepsi Pangreksa dan yang terakhir inilah yang menjadi cikal bakal Kesadaran semesta.

Dari konsep Pangreksa inilah , kemudian hari Kesadaran Semesta tercetus. Berawal dari diskusi-diskusi ringan , meditasi kontemplatif, eksperimentasi , berlanjut dengan berbagai spiritual eksperiense yang kami alami , konsep ini semakin berkembang dan menemukan bentuknya , semuanya tumbuh secara alami bukan melalui ”wisik ghaib”, Spiritual Guide, Kedatangan makhluk makhluk ”yang katanya” Celestial,dan lain-lain. Disisi lain, penerapan konsep ini, selain memberikan pencerahan spiritual dikalangan internal Krita , juga berhasil membantu banyak orang dalam mencapai kesembuhan dan jalan keluar dari permasalahan dengan ”ajaib” , ada yang terbebas dari derita penyakit yang membebaninya selama bertahun-tahun, Ada yang berhasil mendapatkan pekerjaan yang diharapkan, Ada pula yang berhasil keluar dari permasalahannya yang menguras fikirannya selama ini. Semuanya semakin membuat kami malu dan takjub, malu karena diri kami terlalu hina untuk menerima curahan dan kelimpahan kasih sayangNya yang tak habis-habis, takjub karena menyaksikan kehebatan energi semesta yang tak lain dan tak bukan adalah milik Sang Pencipta sendiri.
Sementara mayoritas masyarakat reiki terjerumus dengan ”tipuan-tipuan” para spiritual guide yang kurang bermanfaat dan tidak ada jaminan efektifitasnya yang tidak lebih hanya syariat palsu(tata cara/hukum/aturan) yang mencemari keimanan, saat itu kami sudah mulai menjurus ke pengembangan intuitif, atau mengikuti kata hati , menjalin komunikasi yang transenden dengan semesta-Pencipta. Dalam Kesadaran Semesta yang kami kembangkan ini , penyembuhan bukanlah tatacara baku yang penuh aturan kaku nan ”njlimet” seperti varian Reiki yang sedang umum marak saat ini yang memandang Reiki seperti hukum syariat, tetapi penyembuhan bagi kami adalah suatu ekspresi dari rasa ”penyatuan rasa” (bukan Dzat) dengan semesta dan Pencipta, dengan kata lain penyembuhan bagi kami adalah sebuah Seni.Tuhan mengajarkan langsung pada kami melalui ayat-ayatNya di alam semesta dan diri kami.sangat banyak, berlimpah dan tak habis-habisnya ilmu tuhan yang bisa kita ambil manfaatnya dari semesta, sebagaimana firmanNya :
” Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan lagi setelah keringnya, niscaya tidak akan habis-habisnya kalimat-kalimat Alloh.” Qur'an S Luqman:27
Menyadari betapa pentingnya konsep ini bagi masyarakat Reiki khususnya dan umat manusia umumnya dan besarnya harapan kami agar kemanfaatan yang terkandung di dalamnya dapat direguk oleh seluruh makhluk hidup dimuka bumi terutama persada khususnya, maka saya ”digerakan”Nya untuk memulai penulisan buku kecil ini.

Pembahasan tentang Kesadaran Semesta mau tidak mau akan ”menyambungkan” kita pada teori-teori tentang Filsafat Humanisme , tasauf, dan sedikit banyak mengarah ke Teosofi-nya Suhrawardi, Ibnu Arabi dan Mulla Shadra, untuk itu sengaja kami membatasi dan memperkecil ruang lingkupnya agar pembahasan di buku ini tidak terlalu panjang bertele-tele, dengan harapan untuk menghindari perdebatan hingga merembet keilmu hakekat bahkan Ma`rifat , disamping itu penulis lebih mengarahkan kita pada penerapannya saja, dan karena itu kami lebih banyak menyajikan pengalaman-pengalaman kami, ataupun berbagai kesaksian dan laporan-laporan yang kami terima di lapangan langsung dari rekan-rekan yang mempraktekannya.

Pada Pelatihan Kesadaran Semesta yang kami tawarkan, kami akan membimbing para siswa untuk menghilangkan hijab dalam mencapai Kesadaran Semesta, dan akan mendapatkan latihan tentang bagaimana mengakses seluruh energi semesta tanpa dibatasi oleh varian atau tradisi tertentu, meningkatkan kemampuan healing dan menularkannya pada sesama (pelajaran Reiki tingkat master) yang intinya adalah mengaplikasikan Kesadaran Semesta dalam kehidupan sehari-hari untuk memanfaatkan semesta menjadi perantara Tuhan dalam menolong sesama, tidak semuanya gagasan-gagasan kami tentang Kesadaran Semesta kami tuangkan dalam Situs ini, mengingat betapa panjangnya uraian kata yang harus kami tuliskan .

Berguru Kesadaran Semesta pada hakekatnya sama dengan berguru pada alam semesta, sebuah lautan ilmu ILAHI yang melimpah ruah, dalam tak terbatas, luas tak bertepian, tak ada habisnya untuk kita gali, mudah-mudahan konsep ini dapat memberikan kita setitik pencerahan dan membuka mata kita lebar-lebar, sebuah tahap awal kita memahami semesta.

Mudah-mudahan buku kecil ini dapat menjadi setitik pencerahan , penghilang segala sekat-sekat yang selama ini membelenggu diri, sesuatu yang membuat kita mengalami ”keletihan spirituil” seperti yang pernah penulis alami, dan semoga pula apa yang sedikit ini dapat menjadi bahan renungan yang kemudian dapat mengembalikan hubungan kita pada alam dan Sang Pencipta menjadi lebih baik dari sebelumnya. Selanjutnya Pelatihan Kesadaran Semesta yang kami selenggarakan semoga dapat membebaskan manusia dari berbagai kegelapan seperti, penyakit, pesimisme, dan lainnya, dan semoga konsep ini dapat meningkatkan kualitas hidup umat manusia. Semoga kita kembali dalam hukum harmony Semesta dalam keselarasan dan cintaNya. Amin.

Senin, 23 Maret 2009

Men"spiritual"kan Tenaga Dalam


oleh :Akbar Kuspriadi Grand master Reiki

Selama ini sebagian kalangan mengkategorikan bahwa tenaga dalam bukanlah termasuk sebagai kegiatan spiritual, mereka beralasan bahwa pemusatan atau penyimpanan tenaga dalam dilakukan ditantien yang dianggap sebagai chakra ’rendah’. Karenanya menurut mereka yang mendalami Reiki ,tantien yang telalu aktif akan menumbuhkan ego, mereka mengatakan pula bahwa kekuatan tantien yang terlalu kuatlah yang menyebabkan orang-orang tenaga dalam menjadi arogan, suka pamer dan seterusnya.
Saya kurang sependapat dan kurang dapat memahami hal tersebut. buktinya orang-orang reiki yang suka pamer dan arogan pun cukup banyak, Kita sering mendengar ada master reiki yang menganggap bahwa hanya ’varian” atau ”tradisi”nya sajalah yang paling hebat dan unggul, ada pula yang mengklaim bahwa hanya metodenya sajalah yang dapat membangkitkan kundalini, dan seterusnya.
Sementara itu, menurut kaum yang mendalami ilmu wirid, menganggap tenaga dalam bukanlah kegiatan spiritual atau kegiatan ruhaniyah karena bukan termasuk ibadah atau memuji Allah.
Padahal menurut kami, yang membedakan spiritual atau tidaknya suatu aktifitas adalah bukanlah dari aktifitasnya atau kegiatannya itu sendiri , tetapi dari si pelaku kegiatan atau subjeknya . Pergi ke rumah ibadah bukanlah kegiatan spiritual bila dilakukan dengan tujuan pamer atau mencari popularitas, sementara melakukan pengamatan di laboratrium bisa jadi merupakan kegiatan spiritual bila si subjek mengalami ketakjuban akan objek yang diamatinya bahwa objek tersebut merupakan ayat-ayat atau tanda-tanda (kebesaran) Tuhan, sebagaimana nabi Sulaiman yang takjub saat mengamati kuda-kuda yang berlarian sambil mengatakan ”maha Suci Engkau wahai Tuhanku.” Melihat Ka`bah bukanlah kegiatan spiritual bila sipelakunya hanya sekedar mengamati arsitekturnya saja, sementara melihat gunung bisa jadi merupakan kegiatan spiritual bila si subjek melihat ”isi” dari gunung tersebut yang merupakan Tajaliyat ( penampakan kekuasaan ) Ilahi, sebagaimana yang dilakukan Musa As di Thursinai .
Alqur`an menceritakan kisah Musa ini sebagai berikut
”Dan Tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman langsung kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada-Mu.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi melihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya, nescaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya nampak bagi gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pengsan. Maka Setelah Musa sedar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.”
(Al-A’raaf: 143)
Artinya, spiritual atau tidaknya suatu aktifitas tidak dapat dilihat dari duduk bersimpuhnya seseorang sambil menggenggam tasbih, tetapi dari apa yang ”dirasakan” atau dialami seseorang dalam kegiatan tersebut. Spiritualitas memang kasat mata, tetapi seseorang yang telah mengalami pengalaman spiritual (Syuhud dalam istilah tasawwuf) akan mampu ”memancarkan” cercahan spiritual yang telah ”diserapnya’ pada masyarakat sekelilingnya, muncul berupa akhlak yang terpuji, kata-katanya selalu memancarkan kebenaran.
Seseorang yang menguasai atau telah berhasil mengamalkan suatu wirid atau Hizib tertentu ribuan kali dalam pandangan kami belum tentu seorang spiritualis bila tindakannya masih emosional , perilakunya buruk di masyarakatnya ,dan egonya masih mendominasi dirinya.
Spiritualitas menurut kami bukanlah juga pertemuan gaib dengan para guru-guru yang abstrak tetapi adalah adalah suatu tingkatan kesadaran dalam memaknai realitas, indikatornya adalah kemampuan untuk ”melihat” atau memaknai ”isi” dari suatu realitas yang diamati hingga akhirnya menyingkap ”isi” dari realitas keseluruhan dari semesta. Konsep ini akan nyambung dengan pengertian spiritual itu sendiri yang berasal dari kata spirit yang artinya roh atau ”isi” yang tidak terlihat dari realitas.
Metode kami untuk meningkatkan kekuatan Tenaga Dalam menjadi kekuatan spiritual adalah dengan cara nafas dan gerak kontemplatif yaitu melakukan jurus-jurus tenaga dalam dengan cara mengahayati makna filosofis dari tiap jurus yang ada dan menghayati hakekat dari nafas sambil melakukan jurus.
Seorang praktisi nampon misalnya saat melakukan jurus ke enam yang disebut ”tomplok’ , dapat melakukan penghayatan dengan merenungi filosofi ”nomplokeun kanyaah” ( berbagi kasih pada sesama ). Atau saat melakukan jurus terakhir misalnya, seorang praktisi aliran Jurus Lima Cianjuran (kemungkinan masih satu akar dengan Nampon atau bersumber dari Nampon) dapat menghayati makna dari jurus yang berarti ”menyerahkan segala sesuatu padaNya” .
Atau dapat pula dengan merenungi atau mentafakuri hakekat dari nafas itu sendiri. Misalnya saat menarik dan menghembuskan nafas , sadarilah bahwa Nafas yang kita hirup bukanlah milik kita , tetapi berasal dariNya ! (Lihat hakekat Nafas pada bab IV tentang nafas Semesta ).Saat melakukan gerakan jurus kita dapat melakukannya sambil menghayati bahwa tiada gerak kecuali atas izinNya atau setiap gerak adalah bersumber dari af`alNya.Pada akhirnya seorang praktisi tenaga dalam secara perlahan akan larut dalam penghayatan tersebut dan pada akhirnya meningkatlah Kesadarannya.
Sebagaimana sebuah hadist yang mengatakan bahwa tafakur sehari sama artinya dengan ibadah seribu tahun, maka kegiatan pentafakuran nafas dan gerak pada hakekatnya memiliki nilai spiritual yang luar biasa. Saat seorang teman diajarkan metode ini, dan kemudian mengamalkannya, ia melaporkan bahwa cahaya memancar dari seluruh tubuhnya atau kadang-kadang ia merasa diliputi oleh suatu medan energi saat berlatih padahal biasanya ia hanya sekedar merasakan energi keluar masuk dari tubuhnya. Saat latihan tenaga dalam di lapangan, Salah seorang gurunya yang saat itu tengah menyaksikan datang dan berkomentar pada pelatihnya,” Dari seluruh siswa di angkatan ini, dia yang paling bagus powernya.”
Wallahu a`lam

Penulis adalahjuga praktisi tenaga dalam nampon, yang pernah mempelajari berbagai aliran tenaga dalam dan metafisik